Para Penghuni Rumah Tua

Oleh: Marsus

Aku bisa merasakan bagaimana dinginnya malam ini. Meski tanpa angin berhembus. Tetapi baru saja kota ini diguyur hujan lebat setelah beberapa lama tanah mulai kering kerontang, retak berlubang-lubang. Inilah kota yang kujadikan persinggahan dari desa terpencil, dan menjadi sangat sulit bagiku menyesuaikan kehidupan. Bukan hanya fisik yang selalu tertimpa musibah. Jiwa dan batinku kerap kali menggeliat teriris beragam penyakit menyergap hidupku. Sedih, perih, sakit tak jarang selalu menjamah hidupku.


“Ingatkah kamu saat aku sedang hamil anak kamu. Kamu cium perutku. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa saat aku pertama kali merasakan hamil sebelum akhirnya melahirkan. Tanpa aku sadari sudah jadi seorang ibu dan ayah.”
Begitu katamu lembut suatu ketika. Aku diam mendengar ucapan itu. Walau sebenarnya kupahami, bahwa kamu sudah sangat jenuh dengan keadaan rumah tangga kita yang selalu diwarnai dengan masalah, dengan kekacauan. Diwarnai dengan ketidak rukunan. Dan harapanmu, kebahagiaan bisa kau jamah lagi seperti saat kita baru berpacaran, ketika baru menikah, ketika baru merasakan hamil anak kita yang pertama.
Tetapi tahukah kamu sayang, gemeretak air hujan yang baru saja meramaikan genting rumah kita, telah menjadi saksi bisu dalam pertengkaran ini. Semua angan-anganmu itu sungguh sulit untuk terkabulakan. Seperti doa setiap orang selama berbulan-bulan meminta hujan, yang baru saja diturunkan Tuhan membasahi tubuhmu. Bahkan, mungkin tuntutanmu itu hanya menimbulkan permasalahan di antara kita. Bagaimana tidak, kalau keinginanmu—agar kita bisa merasakan kemesraan dulu lagi. Ya, kemesraan yang sudah kita lampaui beberapa tahun silam. Sedang kita sekarang bukan lagi remaja yang bebas kemana saja pergi. Kemana saja bertamasya mencari kesenangan. Kita sudah menjadi seorang ayah dan ibu yang mempunyai tanggung jawab terhadap anak-anak kita, sayang...
Sisa gerimis masih tanpak membasahi halaman rumah. Tubuh berkeriap saat angin berhempas menyampaikan sisa-sisa gerimis yang jatuh satu-satu. Dingin pun tak bisa kutepis meski baju panjang kukenakan. Jaket tebal seakan sia-sia meski kini menempel di tubuhku.
***
“Anak-anak bukan alasan kita tidak bisa meraih kebahagiaan. Tanggung jawab seorang ayah dan ibu bukan penyebab semua kekacauan,” ujarmu.
“Sekali-kali ajak anak kita bersenang-senang, apa salahnya?” gerutumu.
Kubiarkan saja kamu terus berceloteh. Bahkan, mulai mencacimaki diriku. Mengejekku. Namun aku berusaha menahan emosi agar tidak terpancing dengan omelan-omelan kasarmu. Kuanggap biasa sifat seorang wanita. Toh pada akhirnya emosinya akan terpendam sendiri jika tidak kumeladaninya.
Aku teringat beberapa hari lalu sewaktu kita bertangkar. Emosiku tak terkendali untuk terus melawanmu. Membantah ucapan-ucapan kasarmu yang kau lontarkan kepadaku. Dan hingga akhirya, selama tiga hari kamu terus memusuhiku, tak menyapaku, bahkan pergi meninggalkan aku sendiri mengurusi anak-anak di rumah. Dan sebab itu pula semua pekerjaanku menjadi hencur berantakan.
“Tidak dimana-mana, yang namanya lelaki hanya ingin menang sendiri. Tak peduli anak, istri, semuanya harus nurut apa kata-kata suami,” ujarmu. Aku tak melawan. Melawan hanya menambah keributan dalam rumah tangga. Dan akhirnya, kita sendirilah yang malu kepada tetangga. Aku tak mau kejadian itu terjadi lagi seperti hari-hari sebelumnya. Ya, sewaktu rumah tangga kita pernah menjadi perbincangan heboh oleh semua warga ditempat tinggalku.
***
Kau menangis sesenggukan. Aku heran! Padahal semua keinginanmu telah aku penuhi; berjalan-jalan ke pantai bersama anak-anak,  pergi ke wisata kebun binatang menyaksikan berbagai hiburan-hiburan, kadang juga sempat nongkrong di alun-alun. Selama dua minggu akhir-akhir ini, telah kuluangkan waktuku untuk memenuhi permintaanmu. Untuk menepis pertengkaran yang kerap terjadi.
Kau tetap saja menangis. Awalnya aku tidak mengubris. Kubiarkan terus menangis dan menangis. Paling hanya ingin lebih diperhatikan lagi, atau ada sedikit penyesalan, pikirku. Namun, setelah beberapa menit berlalu, kamu melangkah memasuki kamar. Kemudian keluar dengan menjinjing tas koper beserta barang-barang lainnya. Jelas aku merasa sangat keget waktu itu.
“Aku lebih memilih tinggal bersama orang tuaku. Di kampung lebih damai dan sejuk.” Katamu tiba-tiba. Aku terkejut.
“Maksudmu apa?” tanyaku. “Bagaimana dengan anak kita?” lanjutku.
“Terserah maunya dia. Mau tinggal bersamaku atau bersama kamu?” bantahmu.
“Tidak bisa begitu. Dia masih butuh aku dan kamu. Kamu tidak boleh seenaknya mengambil keputusan tanpa mempertimbangkannya.”
“Terserah, maumu bagaimana.” Jawabmu ketus. Kamu langsung pergi.
“Tunggu!” pintaku.
Kamu tetap pergi meninggalkan aku. Aku berusaha mengejarmu. Tapi kamu sudah jauh dengan mobil taksi yang telah kau suru datang sebelumnya.
***
Dua hari berselang, kamu belum ada kabar. HPmu di non aktifkan. Sementara anakmu terus menanyakanmu, kapan kamu akan pulang? Aku pun tidak bisa memjawab pasti, kapan kamu akan datang.
Hari demi hari kulalui tanpamu. Anakmu kini terus meronta-ronta meminta ketemu denganmu. Aku sengaja tidak mengantarnya ke kampung rumah orang tuamu. Aku berharap kamu memiliki kepedulian sendiri untuk kembali lagi menemui anakmu. Dan, hingga beberapa hari kamu pun belum juga kembali untuk menemuinya, atau sekedar menghubungiku menanyakan kabarnya.
Dia jatuh sakit berbaring lemas di ranjang tempat tidurmu. Mengigau sesekali memanggil-manggil namamu. Entahlah, apa yang membuat dirimu tidak bisa mendengar suara hati anakmu sendiri yang sudah lama merindukanmu. Begitu membekukah hati dan perasaanmu untuk sekedar meluangkan sedikit waktu untuk menemui anakmu. Atau ada dendam membara yang masih melekat akan kekecewaan yang pernah kau rasakan selama hidup bersamaku? Entahlah......
Semakin hari penderitaan anakmu semakin menjadi. Aku sudah berusaha mngobatinya membawa ke dokter. Namun entah penyakit apa yang dideritanya tak pernah ada tanda-tanda untuk segera sembuh. Dia terus-terusan menangis seperti kesakitan, mengegau, sekujur tubuhnya panas gemetar, sepasang matanya memerah, suaranya pun tak bisa ia ungkapkan.
Akhirnya, dengan terpaksa aku berusaha mendatangi rumah orang tuamu untuk menemuimu. Meski sangat sulit harus kutempuh jalan terjal menuju kampung rumah orang tuamu. Ya, jalan yang sangat jauh melampaui jalan-jalan setapak, jalan menikung ke bukit-bukit bebatuan.
***
Sesampainya di sana, kutemui seorang nenek sedang menyapu halaman rumahmu. Aku menyapanya. Dia pun menyambutku dengan ramah.
“Siapa?” tanya nenek itu. Mungkin dia tidak bisa mengingat  wajahku lagi karena sudah lama tidak bertemu.
“Saya Kanif, Nek. Suami Suhartati,” dia hanya menganguk pelan. Sepertinya belum bisa mengingat jelas tentang diriku.
“O, iya silahkan masuk,” katanya menyilahkanku masuk.
Aku duduk di kursi kecil yang terbuat dari kayu. Kursi itu mungkin sudah berumur puluhan tahun sejak pertama kali aku baru menikah dengan Suhartati. Tapi kursi tersebut masih kelihatan masih utuh dan alami: warna kayu dan kekhasan seni ukirnya masih sangat jelas buatan orang jawa.
Selang beberapa menit kemudian, si nenek menghampiriku. Duduk lurus tepat di hadapanku. Namun ia hanya diam. Tak sepatah pun ia ungkapkan. Sepi. Suasana rumah pun serasa mencekam. Selain si nenek, tak seorang pun kulihat selama hampir tiga jam diam di rumah itu.
“Bagaimana kabar keluarga di sini. Semuanya baik-baik saja, Nek?” tanyaku kemudian. Bermaksud mengetahui keberadaan Suhartati, istriku.
“Hanya tinggal Nenek seorang.” Keluhnya. Keningnya berkerut. Berbagai tanda tanya timbul dalam benakku. Terutama tentang istriku yang pergi entah kemana?
Tujuh tahun silam, ya, aku benar-benar ingat suasana rumah ini sangat ramai. Suhartati, istriku ketika berkunjung ke sini selalu bercanda gurai dengan beberapa keponakannya yang tinggal di satu rumah itu. Ayah dan ibu serta kakek-neneknya juga berkumpul di rumah tersebut. Tapi sekarang. Ah, entahlah..., apa yang merubah suasana rumah ini menjadi sangat sepi mencekam? Setelah sekian tahun aku pergi tinggal di kota, meninggalkan rumah tua ini?
Aku belum menemukan jawaban dari sekian peristiwa yang kini kutanyakan. Nenek pun enggan dimintai penjelasan tentang kisah para penghuni rumah tua ini. Apalagi dimintai penjelasan tentang keberadaan Suhartati, yang telah beberapa bulan ini pergi meninggalkan aku dan anaknya. Hingga sekarang pun belum tahu sedang dimana dia.
“Anak durhaka!” desisnya ketika aku menyebut nama Suhartati. Entah apa maksudnya. Dia tak mau berbicara lagi selain kata singkat itu.
***
Malam tiba. Awan menggumpal hitam berarakan. Gerimis turun satu persatu. Kilauan garis-garis petir jatuh membentur ujung bukit di belakang rumah. Disusul gemuruh angin yang menyibak pepohon disekelilingnya. Pohon tumbang jatuh berserakan. Suasana petang hitam tanpa cahaya apa pun kecuali sinar lampu taplok yang menggantung di dinding. Jendela rumah berayun-ayun membunyikan keriek engsel. Si nenek beranjak menutupnya agar tidak kemasukan air hujan yang mulai turun.
“Pulanglah!” suruh si nenek panik.
Hening. Aku diam. Wajahnya terlihat lebam. Ada gemuruh dalam hatinya. Seperti ada beban berat yang sedang dipikulnya. Namun berat untuk diungkapnya. Dia berdiri melipat tangannya. Menepis rasa dingin yang memburu sekujur tubuhnya. Sesekali memerhatikan butiran-butiran air jatuh dari atap rumahnya. Aku ingin sekali bertanya, dimana Suhartati berada? Tapi pertanyaan itu tak bisa ku ungkap. Saat melihat si nenek sedang meneteskan  air mata membenjiri pipinya.
“Nek..., boleh tahu kabar Suhartati? Dimana dia sekarang?” tanyaku.
“Anak durhaka! Pelacur! Saya tidak mau mendengar nama itu lagi.” Dia marah. Wajahnya semakin sedih.
Hujan lebat turun mengguyur rumah tua itu. Gemuruh angin dan kilatan petir terus mewarnai suasana rumah yang sepi dan mencekam. Daun-daun pepohonan disamping rumah berguguran. Jatuh berserakan. Tanah yang kering kerontang seakan kembali pada masa-masa tujuh tahun silam. Hujan terus semakin lebat. Angin sepoi membentur jendela hingga sedikit terbuka. Sebercak cahanya dari kilauan lampu taplok yang menggantung di dinding tiba-tiba padam. Rumah menjadi sangat sunyi, sepi, dan mencekam.
Yogyakarta, Oktober 2011
Sumber: Duta Masyarakat, 1 Agustus 2017.

0 comments: