Oleh: Marsus
“Ingatkah kamu saat aku sedang hamil anak kamu.
Kamu cium perutku. Sungguh kebahagiaan yang luar biasa saat aku pertama kali
merasakan hamil sebelum akhirnya melahirkan. Tanpa aku sadari sudah jadi
seorang ibu dan ayah.”
Begitu katamu lembut suatu ketika. Aku diam
mendengar ucapan itu. Walau sebenarnya kupahami, bahwa kamu sudah sangat jenuh
dengan keadaan rumah tangga kita yang selalu diwarnai dengan masalah, dengan
kekacauan. Diwarnai dengan ketidak rukunan. Dan harapanmu, kebahagiaan bisa kau
jamah lagi seperti saat kita baru berpacaran, ketika baru menikah, ketika baru
merasakan hamil anak kita yang pertama.
Tetapi tahukah kamu sayang, gemeretak air hujan
yang baru saja meramaikan genting rumah kita, telah menjadi saksi bisu dalam
pertengkaran ini. Semua angan-anganmu itu sungguh sulit untuk terkabulakan.
Seperti doa setiap orang selama berbulan-bulan meminta hujan, yang baru saja
diturunkan Tuhan membasahi tubuhmu. Bahkan, mungkin tuntutanmu itu hanya
menimbulkan permasalahan di antara kita. Bagaimana tidak, kalau
keinginanmu—agar kita bisa merasakan kemesraan dulu lagi. Ya, kemesraan yang
sudah kita lampaui beberapa tahun silam. Sedang kita sekarang bukan lagi remaja
yang bebas kemana saja pergi. Kemana saja bertamasya mencari kesenangan. Kita
sudah menjadi seorang ayah dan ibu yang mempunyai tanggung jawab terhadap
anak-anak kita, sayang...
Sisa gerimis masih tanpak membasahi halaman
rumah. Tubuh berkeriap saat angin berhempas menyampaikan sisa-sisa gerimis yang
jatuh satu-satu. Dingin pun tak bisa kutepis meski baju panjang kukenakan.
Jaket tebal seakan sia-sia meski kini menempel di tubuhku.
***
“Anak-anak bukan alasan kita tidak bisa meraih
kebahagiaan. Tanggung jawab seorang ayah dan ibu bukan penyebab semua
kekacauan,” ujarmu.
“Sekali-kali ajak anak kita bersenang-senang, apa
salahnya?” gerutumu.
Kubiarkan saja kamu terus berceloteh. Bahkan,
mulai mencacimaki diriku. Mengejekku. Namun aku berusaha menahan emosi agar
tidak terpancing dengan omelan-omelan kasarmu. Kuanggap biasa sifat seorang
wanita. Toh pada akhirnya emosinya akan terpendam sendiri jika tidak
kumeladaninya.
Aku teringat beberapa hari lalu sewaktu kita
bertangkar. Emosiku tak terkendali untuk terus melawanmu. Membantah
ucapan-ucapan kasarmu yang kau lontarkan kepadaku. Dan hingga akhirya, selama
tiga hari kamu terus memusuhiku, tak menyapaku, bahkan pergi meninggalkan aku
sendiri mengurusi anak-anak di rumah. Dan sebab itu pula semua pekerjaanku
menjadi hencur berantakan.
“Tidak dimana-mana, yang namanya lelaki hanya
ingin menang sendiri. Tak peduli anak, istri, semuanya harus nurut apa
kata-kata suami,” ujarmu. Aku tak melawan. Melawan hanya menambah keributan
dalam rumah tangga. Dan akhirnya, kita sendirilah yang malu kepada tetangga.
Aku tak mau kejadian itu terjadi lagi seperti hari-hari sebelumnya. Ya, sewaktu
rumah tangga kita pernah menjadi perbincangan heboh oleh semua warga ditempat
tinggalku.
***
Kau menangis sesenggukan. Aku heran! Padahal
semua keinginanmu telah aku penuhi; berjalan-jalan ke pantai bersama
anak-anak, pergi ke wisata kebun binatang menyaksikan berbagai
hiburan-hiburan, kadang juga sempat nongkrong di alun-alun. Selama dua minggu
akhir-akhir ini, telah kuluangkan waktuku untuk memenuhi permintaanmu. Untuk
menepis pertengkaran yang kerap terjadi.
Kau tetap saja menangis. Awalnya aku tidak
mengubris. Kubiarkan terus menangis dan menangis. Paling hanya ingin lebih
diperhatikan lagi, atau ada sedikit penyesalan, pikirku. Namun, setelah
beberapa menit berlalu, kamu melangkah memasuki kamar. Kemudian keluar dengan
menjinjing tas koper beserta barang-barang lainnya. Jelas aku merasa sangat
keget waktu itu.
“Aku lebih memilih tinggal bersama orang tuaku.
Di kampung lebih damai dan sejuk.” Katamu tiba-tiba. Aku terkejut.
“Maksudmu apa?” tanyaku. “Bagaimana dengan anak
kita?” lanjutku.
“Terserah maunya dia. Mau tinggal bersamaku atau
bersama kamu?” bantahmu.
“Tidak bisa begitu. Dia masih butuh aku dan kamu.
Kamu tidak boleh seenaknya mengambil keputusan tanpa mempertimbangkannya.”
“Terserah, maumu bagaimana.” Jawabmu ketus. Kamu
langsung pergi.
“Tunggu!” pintaku.
Kamu tetap pergi meninggalkan aku. Aku berusaha
mengejarmu. Tapi kamu sudah jauh dengan mobil taksi yang telah kau suru datang
sebelumnya.
***
Dua hari berselang, kamu belum ada kabar. HPmu di
non aktifkan. Sementara anakmu terus menanyakanmu, kapan kamu akan pulang? Aku
pun tidak bisa memjawab pasti, kapan kamu akan datang.
Hari demi hari kulalui tanpamu. Anakmu kini terus
meronta-ronta meminta ketemu denganmu. Aku sengaja tidak mengantarnya ke
kampung rumah orang tuamu. Aku berharap kamu memiliki kepedulian sendiri untuk
kembali lagi menemui anakmu. Dan, hingga beberapa hari kamu pun belum juga
kembali untuk menemuinya, atau sekedar menghubungiku menanyakan kabarnya.
Dia jatuh sakit berbaring lemas di ranjang tempat
tidurmu. Mengigau sesekali memanggil-manggil namamu. Entahlah, apa yang membuat
dirimu tidak bisa mendengar suara hati anakmu sendiri yang sudah lama
merindukanmu. Begitu membekukah hati dan perasaanmu untuk sekedar meluangkan
sedikit waktu untuk menemui anakmu. Atau ada dendam membara yang masih melekat
akan kekecewaan yang pernah kau rasakan selama hidup bersamaku? Entahlah......
Semakin hari penderitaan anakmu semakin menjadi.
Aku sudah berusaha mngobatinya membawa ke dokter. Namun entah penyakit apa yang
dideritanya tak pernah ada tanda-tanda untuk segera sembuh. Dia terus-terusan
menangis seperti kesakitan, mengegau, sekujur tubuhnya panas gemetar, sepasang
matanya memerah, suaranya pun tak bisa ia ungkapkan.
Akhirnya, dengan terpaksa aku berusaha mendatangi
rumah orang tuamu untuk menemuimu. Meski sangat sulit harus kutempuh jalan
terjal menuju kampung rumah orang tuamu. Ya, jalan yang sangat jauh melampaui
jalan-jalan setapak, jalan menikung ke bukit-bukit bebatuan.
***
Sesampainya di sana, kutemui seorang nenek sedang
menyapu halaman rumahmu. Aku menyapanya. Dia pun menyambutku dengan ramah.
“Siapa?” tanya nenek itu. Mungkin dia tidak bisa
mengingat wajahku lagi karena sudah lama tidak bertemu.
“Saya Kanif, Nek. Suami Suhartati,” dia hanya
menganguk pelan. Sepertinya belum bisa mengingat jelas tentang diriku.
“O, iya silahkan masuk,” katanya menyilahkanku
masuk.
Aku duduk di kursi kecil yang terbuat dari kayu.
Kursi itu mungkin sudah berumur puluhan tahun sejak pertama kali aku baru
menikah dengan Suhartati. Tapi kursi tersebut masih kelihatan masih utuh dan
alami: warna kayu dan kekhasan seni ukirnya masih sangat jelas buatan orang
jawa.
Selang beberapa menit kemudian, si nenek
menghampiriku. Duduk lurus tepat di hadapanku. Namun ia hanya diam. Tak sepatah
pun ia ungkapkan. Sepi. Suasana rumah pun serasa mencekam. Selain si nenek, tak
seorang pun kulihat selama hampir tiga jam diam di rumah itu.
“Bagaimana kabar keluarga di sini. Semuanya
baik-baik saja, Nek?” tanyaku kemudian. Bermaksud mengetahui keberadaan
Suhartati, istriku.
“Hanya tinggal Nenek seorang.” Keluhnya.
Keningnya berkerut. Berbagai tanda tanya timbul dalam benakku. Terutama tentang
istriku yang pergi entah kemana?
Tujuh tahun silam, ya, aku benar-benar ingat
suasana rumah ini sangat ramai. Suhartati, istriku ketika berkunjung ke sini
selalu bercanda gurai dengan beberapa keponakannya yang tinggal di satu rumah
itu. Ayah dan ibu serta kakek-neneknya juga berkumpul di rumah tersebut. Tapi
sekarang. Ah, entahlah..., apa yang merubah suasana rumah ini menjadi sangat
sepi mencekam? Setelah sekian tahun aku pergi tinggal di kota, meninggalkan
rumah tua ini?
Aku belum menemukan jawaban dari sekian peristiwa
yang kini kutanyakan. Nenek pun enggan dimintai penjelasan tentang kisah para
penghuni rumah tua ini. Apalagi dimintai penjelasan tentang keberadaan
Suhartati, yang telah beberapa bulan ini pergi meninggalkan aku dan anaknya.
Hingga sekarang pun belum tahu sedang dimana dia.
“Anak durhaka!” desisnya ketika aku menyebut nama
Suhartati. Entah apa maksudnya. Dia tak mau berbicara lagi selain kata singkat
itu.
***
Malam tiba. Awan menggumpal hitam berarakan.
Gerimis turun satu persatu. Kilauan garis-garis petir jatuh membentur ujung
bukit di belakang rumah. Disusul gemuruh angin yang menyibak pepohon
disekelilingnya. Pohon tumbang jatuh berserakan. Suasana petang hitam tanpa
cahaya apa pun kecuali sinar lampu taplok yang menggantung di dinding. Jendela
rumah berayun-ayun membunyikan keriek engsel. Si nenek beranjak menutupnya agar
tidak kemasukan air hujan yang mulai turun.
“Pulanglah!” suruh si nenek panik.
Hening. Aku diam. Wajahnya terlihat lebam. Ada
gemuruh dalam hatinya. Seperti ada beban berat yang sedang dipikulnya. Namun
berat untuk diungkapnya. Dia berdiri melipat tangannya. Menepis rasa dingin
yang memburu sekujur tubuhnya. Sesekali memerhatikan butiran-butiran air jatuh
dari atap rumahnya. Aku ingin sekali bertanya, dimana Suhartati berada? Tapi
pertanyaan itu tak bisa ku ungkap. Saat melihat si nenek sedang
meneteskan air mata membenjiri pipinya.
“Nek..., boleh tahu kabar Suhartati? Dimana dia
sekarang?” tanyaku.
“Anak durhaka! Pelacur! Saya tidak mau mendengar
nama itu lagi.” Dia marah. Wajahnya semakin sedih.
Hujan lebat turun mengguyur rumah tua itu.
Gemuruh angin dan kilatan petir terus mewarnai suasana rumah yang sepi dan
mencekam. Daun-daun pepohonan disamping rumah berguguran. Jatuh berserakan.
Tanah yang kering kerontang seakan kembali pada masa-masa tujuh tahun silam.
Hujan terus semakin lebat. Angin sepoi membentur jendela hingga sedikit
terbuka. Sebercak cahanya dari kilauan lampu taplok yang menggantung di dinding
tiba-tiba padam. Rumah menjadi sangat sunyi, sepi, dan mencekam.
Yogyakarta, Oktober 2011
Sumber: Duta Masyarakat, 1 Agustus 2017.


0 comments:
Post a Comment