Sekitar
jam 11.15 menjelang duhur kami sampai di gedung Grahasaba UGM, tempat event tersebut. Begitu banyak orang berseleweran dengan membawa map dan sejumlah
berkas-berkas keperluan lamaran lainnya. Mereka berpakaian rapi, necis dengan sepatu mengkilat serta dasi melambai-lambai seperti mengucapkan 'selamat tinggal pengangguran.' Semua
penampilan orang-orang di sana adalah kebalikan dari penampilan saya yang sederhana dan apa adanya.
Langkah pertama
kami menuju kerumunan orang ke arah pintu utama JobFair lantai atas. Di sana saya diberi penjelasan, bahwasanya kalau bukan
mimber tempatnya bukan di lantai atas, tapi di lantai bawah.
Kami pun bergegas turun ke lantai bawah. Di pintu
masuk orang-orang berkerumun, sambil menunggu antrian di bibir pintu. Di samping kanan-kiri kami ibu-ibu menawarkan stop map, bolpen, pensil, dan alat keperluan melamar kerja lainnya--agar kita kami membeli. Saya maju perlahan-lahan ke bibir
pintu, hendak masuk ke dalam ruang. Namun setelah sampai di depan pintu
itu, dua orang petugas yang berpakaian rapi itu meminta kami agar mengisi daftar terlebih dahulu di sebelah kanan gedung.
Kami
pun ke sana, mengikuti langkah orang-orang yang juga berduyun-duyun menuju tempat pendaftaran
tersebut. Di sana, sebelum saya meminta blangko pendaftaran, saya bertanya kepada perempuan itu.
"Apakah
aku harus ikut mendaftar, aku kan nggak mau melamar kerja?" Tanya saya.
"Nggak
apa-apa lihat-lihat saja ke dalam." Jawab perempuan itu. Ia ingin agar dirinya ada yang menemani masuk ke
dalam. Sebenarnya, saat itu saya juga ingin menemaninya, tapi dengan penampilan yang 'jelek' (tapi penampilan saja ya, hatinya tetap baik.he) saya merasa agak gimana gitu.
Baiklah, akhirnya saya sepakat ikut masuk ke dalam. Hitung-hitung cari pengalaman.
Perempuan itu pun mengambil dua blangko, satu untuk saya, satunya lagi untuk
dia.
Kami mengisinya dengan lengkap: nama, nomor hp, kampus, jutusan, email,
dan lain lain. Setelah itu kami beranjak ke pintu masuk itu. Berjalan dengan
santai disela keramaian orang-orang.
Sesampainya di depan pintu, dua petugas yang berpakaian rapi itu meminta blangko itu. Kami pun menyobeknya sendiri-sendiri, tanpa menunggu disobekan oleh dua petugas itu. Setelah
saya sobek jadi dua bagian, saya julurkan ke petugas itu. Si petugas tersebut melihat dan memelototi saya, dan
mengatakan.
"Maaf, Mas, sebelumnya, sebelum masuk, mohon memakai sepatu dulu ya.., jangan memakai
sandal." Ujarnya sambil melihat kaki saya yang memakai sandal.
"Oh, begitu ya, Pak?" Saya yang memang belum tahu aturan-aturan masuk ke JF, sempat membelalak. Di keramaian orang, saya tidak banyak bertanya dan berdebat.
"Baiklah kalau begitu." Jawab saya singkat. Lantas bapak itu mengembalikan
blangko yang sudah saya sobek. Saya membalikkan badan, dan perempuan itu pun terlihat mematung, tidak segera masuk.
"Sana
kamu masuk saja, Aku tunggu di luar ya.." Kata saya dengan perasaan bimbang.
Wajah
perempuan itu tiba-tiba jadi murung, kesal, sedih campur aduk. Rupanya ia merasa tidak
nyaman kalau masuk seorang dri tanpa ada temannya.
Perempuan itu masih saja mematung. Penuh pikir, antara masuk atau tidak? Saya pun terus membujuk, agar masuk dulu meski sebentar. Saya tetap menunggu di luar.
"Terus mau gimana lagi, masak aku mau balik dulu (tempat tinggal saya agak jauh), undah trlanjur sampai di sini." Kata saya. Dia masih mematung
saja, saya mundur ke belakang. Sebelum akhirnya, dengan wajah bersungut-sungut, berempuan itu masuk ke dalam. Saya duduk menunggunya di antara kerumunan orang-orang sambil menulis catatan ini .

0 comments:
Post a Comment