Oleh: Marsus Banjarbarat
Perempuan
itu tidak terlalu cantik. Namun senyumnya terasa begitu teduh. Ia perempuan
yang cerdik kalau dilihat dari caranya berbicara. Sebab itu, saya senang menjalin
kerja sama dengannya. Kisah-kisahnya pun tidak sedikit yang memenuhi lembaran
buku harian saya.
Saya
dan perempuan itu bisa dibilang hidup senasib. Setiap pekerjaannya adalah jembatan
penyambung hidup. Baik untuk diri atau keluarganya. Apa pun bisa dilakukan demi
mempertahankan nafas di arus kesulitan kota ini.
Sebenarnya
kami tidak terlalu lama kenal. Tetapi, di luar pekerjaan, saya sangat akrab. Ia
yang bekerja di salah satu cabang kantor pos kerap bercerita banyak hal tentang
hidupnya yang malang. Orangtuanya meninggal dengan dililit hutang. Ia menjadi
pundak dari beban keluarganya sejak usia SD. Sebab itu, semua pekerjaan bisa ia
lakukan asal menguntungkan. Dapat terbebas dari tekanan seorang rentenir yang
menjarah dirinya.
“Silahkan,
Mas, kilat atau exspress?” senyumnya mengembang dari bibirnya yang tipis dan
jernih.
Saya
letakkan sebuah paket di timbangan digital, “yang kilat berapa?”
Perempuan
itu bertahan dengan bibirnya yang indah. Penuh senyum. Ia lihat angka berat
paket yang tertera di layar timbangan. Lantas meraih bungkusan paket dan
melihat alamat tujuan yang saya tulis.
“Saya
cek dulu ya, Mas.”
Selang
beberapa detik, “kalau kilat Rp.11.500. Express Rp.19.800,” ujarnya.
Saya
terdiam. Pura-pura berpikir. Tepatnya terpukau melihat wajahnya. Sungguh, bola mata
ini tak mampu ditahan untuk tidak terus mencuri pandang ke arah perempuan itu.
“Mas,
bagaimana?” tersentak. Kali ini tertangkap basah bahwa perhatian saya telah sampai
pada permukaan dadanya yang indah dan tebal. Tertegun. Ada kekhawatiran,
kalau-kalau ia akan tersinggung atau marah. Tetapi, ia malah tersenyum. Senyumnya
berusaha disembunyikan.
“Iya,
yang itu.” Saya masih gugup. Gelagapan. Malu. Sedikit takut!
“Yang
mana? Kilat atau exspress?” tanyanya lagi. Saya mematung.
“Express.”
Jawab saya sekenanya. Kali ini perempuan itu tidak bisa menyembunyikan lagi
garis-garis senyumnya yang lembut. Sehingga saya semakin sulit mengendalikan bola
mata untuk tidak menatapnya.
“Seperti
biasa, kan?” bisik perempuan itu. Cair. Saya mengangguk, “yang lebih cepat dan
aman!” Saya berisyarat. Ia kembali mengulum senyum. Lantas diletakkannya paket
terbungkus rapi di tempat terpisah.
***
Suatu
pagi, tiba-tiba pacar saya marah. Ia menuduh saya memiliki hubungan intim
dengan petugas pos. Semua buku harian yang banyak mengurai tentang perempuan
itu telah ia baca. Sebenarnya, itu tidak cukup bukti untuk menuduh saya punya
hubungan asmara dengan perempuan itu.
Braakkkkkk.
“Siapa
yang kamu maksud perempuan pos dalam buku ini?” ia tiba-tiba menyeringai. Melempar
buku harian ke meja.
“Kau
punya hubungan apa dengan perempuan itu?”
“Jangan
salah paham dulu.” Saya mencoba menjelaskan.
“Jangan
salah paham gimana? Dalam buku ini jelas-jelas kamu telah memiliki
hubungan dekat dengan perempuan itu.”
“Itu
hanya catatan saja. Fiktif.” Saya coba mengelak.
“Catatan
pertemuanmu dengan perempuan itu? Catatan perjalananmu dengan perempuan itu? Catatan
kekagumanmu terhadap perempuan itu? Kamu bilang semuanya fiktif?” Sepasang
matanya membara.
Braaakkkkk.
Ia
kembali membanting buku itu ke hadapan saya. Pergi. Saya tidak bisa membela. Api
cemburu telah menggerogoti pikirannya. Tuntaslah kemarahan ia tuangkan.
Saya
terkejut melihat buku tergeletak di meja. Terselip selembar foto perempuan pos yang
pernah saya simpan rapat-rapat dalam lipatan pakaian di lemari. Hari itu juga,
ia meminta agar hubungan kita putus. Saya menolak. Ia tetap memaksa. Apa pun
alasannya ia tetap akan pergi dari kehidupan saya.
“Beri
aku waktu menjelaskan semua ini!” Saya merayu.
“Semuanya
sudah cukup jelas.”
“Tapi
kamu salah paham.”
Ia
langsung pergi. Tak mau mendengarkan penjelasan lagi.
***
Rencana
liburan akhir semester minggu ini untuk memperkenalkan saya kepada orangtuanya,
gagal. Sejak peristiwa itu, ia tak mau lagi menemui saya. Nomor handphone-nya
sulit dihubungi. Saya berusaha mencari kabar melalui teman-temannya. Tetapi,
semuanya bilang tidak tahu. Saya juga mencoba menghubungi kakaknya—seorang
polisi yang bertugas di Yogyakarta. Tetapi, nomornya kini tidak pernah aktif.
Di
sela kesibukan saya kuliah sambil bekerja sebagai marketing buku di salah satu penerbitan
di Yoyakarta, saya selalu luangkan waktu untuk menyambangi kosnya. Namun, sayang
usaha itu sia-sia. Ia tak pernah ada di kosnya. Di beberapa warung kopi tempat
biasa ia nongkrong juga tak pernah ada. Menurut salah seorang teman kuliahnya,
terakhir berjumpa dengannya saat ia duduk menunggu bus di seberang jembatan
Janti. Dengan begitu, paling tidak, saya merasa sedikit lega. Artinya kuanggap ia
telah pulang ke rumahnya.
Suatu
hari saya kembali ke kantor pos untuk mengirim paket buku kepada pelanggan online.
Di kantor pos yang tak jauh dari kantor penerbitan tempat saya bekerja, karyawan
perempuan itu sedang bertugas sendiri.
Ia
tersenyum menyambut saya.
“Silahkan,
Mas, kilat atau ekspres?”
“Ekspres.”
Saya membalas senyumnya.
“Seperti
biasa, kan?”
Saya
mengangguk dengan mata terpana pada paras wajahnya. Sesekali tak lupa memberi isyarat.
Ia membalas dengan senyuman. Penuh pengertian.
Ah,
entahlah, memerhatikan perempuan itu tiba-tiba saya tertegun. Lama-lama perempuan
itu terlihat manis. Enak dipandang. Tidakkah saya telah mencintainya? Ah, tidak,
ini kekaguman saja yang tak lebih dari sebagai teman yang menjalin kerja sama dalam
urusan pengiriman barang.
Ya,
kedekatan saya dengan perempuan itu sekedar menjalin kerja sama dalam urusan pengiriman
barang agar bisa aman sampai tujuan. Terlebih barang yang saya selipkan dalam buku
itu. Jika kau bertanya bagaimana triknya? Ini urusan saya dan perempuan itu.
Yang jelas ia tau seluk beluk dalam kantor pos. Dan semua kurir di sana adalah
teman karibnya. Dengan kerja sama inilah, saya dan perempuan itu, dan juga orang
yang ikut membantu urusan ini--dapat meraup keuntungan lebih besar berlipat ganda
dari gaji pekerjaan kami yang pas-pasan.
“Sudah,
Mas.” Saya terkejut. Pikiran buyar seketika. Perempuan itu menjulurkan slip bukti
pengiriman ke hadapan saya.
“Oh
iya.” Saya menatap sumringah.
Ketika
saya pergi meninggalkan kantor pos, tanpa saya duga ada dua polisi datang. Ia berhenti
tepat di depan kantor pos. Berdiri tegap dengan sebuah tembak. Kemudian disusul
sekawanan polisi dengan mobilnya. Bersamaan dengan seorang kurir yang saya
kenal datang untuk mengambil sebuah paket.
Saya
menghentikan langkah di seberang area parkir. Memerhatikan polisi-polisi itu yang
tampak serius di depan kantor pos. Kurir itu mempercepat langkahnya. Masuk ke
dalam kantor pos. Mengambil sebuah paket untuk ia kirimkan ke alamat tujuan.
Namun, sebelum ia pergi membawa bungkusan-bungkusan paket, polisi-polisi tersebut
mencegah dan meringkus lelaki berpakaian oren itu.
Saya
merasa ada yang ganjil. Saya menjauh beberapa langkah. Memerhatikan dari
kejauhan. Polisi-polisi itu masuk ke dalam kantor pos. Menggeledah semua
barang-barang yang ada di dalamnya. Tak seberapa lama, salah seorang dari
polisi keluar menggiring perempuan pos itu. Tangannya terborgol. Ia dipaksa
masuk bersama seorang kurir ke dalam mobil polisi.
Saya
mematung. Dari kejauhan melihat betapa raut wajah perempuan itu terbalut oleh duka.
Linang air mata darah menetes satu-satu di pipinya. Nyanyian-nyanyian pilu
terdengar samar-samar menusuk telinga.
Polisi-polisi
itu masih menggeledah semua isi kantor pos. Mendeteksi semua benda-benda dan
setiap barang paketan. Tak seberapa lama, salah seorang polisi keluar dari
kantor pos. Membawa beberapa bungkus paket. Termasuk paket buku yang baru saja
saya kirimkan. Sebelum akhirnya, sekawanan polisi itu pergi meninggalkan kantor
pos, membawa seorang kurir dan perempuan pos itu.
***
Malam
itu pacar saya menangis. Air matanya meleleh ketika tahu, bahwa saya masuk
dalam komplotan pengedar barang terlarang. Ia tidak bisa berbuat apa pun atas
penyesalannya yang telah melaporkan perempuan pos kepada kakaknya yang seorang
polisi.
Kecemburuan
yang terus bercokol di kepalanya, menjadikannya buta ketika ia tahu melalui buku
harian saya tentang perempuan pos yang menjadi agen pengedar narkoba. Dialah
yang memberi kabar terciumnya barang haram kepada polisi. Dialah yang menjerumuskan
perempuan pos ke rumah besi. Dan, dia pula yang membawa saya ke balik jeruji
ini.
Di
akhir pertemuan ini, saya melihat betapa mukanya dibalut pilu oleh penyesalan
yang tak bisa disulam kembali. Ia melangkah gontai bersama lelehan air mata
saat seorang polisi memintanya segera keluar. Sebab, dini hari nanti, eksekusi
akan segera dilakukan.
Yogyakarta, akhir 2014-2015
Sumber: (Koran Kedaulatan Rakyat, 01 Februari 2015)
Sumber: (Koran Kedaulatan Rakyat, 01 Februari 2015)

0 comments:
Post a Comment