Perempuan yang Suka Menulis di Telapak Tangan

Oleh: Marsus Banjarbarat
Lihatlah perempuan yang termangu di sisi pintu itu. Lihat bagaimana ia dengan kebingungannya terus menoleh dan menoleh. Di genggaman tangannya, sebuah pena ia remas erat-erat, dan bibirnya ia gigit kuat-kuat, sesekali gemeretak giginya mulai terdengar mengusik samar-samar.
Pena itu patah dan baru saja ia lempar ke tempat sampah. Bibirnya, ya bibirnya yang merona itu tampak dipenuhi bercak darah. Berkali-kali ia menoleh sambil lalu membuka tasnya, mencari tisu untuk menghapus darah di bibirnya, tetapi, tisu dalam tasnya tak ada. Ia menoleh lagi, namun yang diharapnya tak kunjung ada.

Lihatlah lebih jelas lagi! Raut muka perempuan itu yang semula berseri-seri, kini telah berganti kusut. Bedak yang melekat indah di pipinya telah tergores-gores oleh titik-titik air mata. Pipinya yang semula tampak lembut, kini seolah tanah kering yang retak. Kerontang. Lipstiknya yang mewarnai bibir anggun kemerah-merahan, telah terkotori oleh bercak darah.

Perempuan itu masih saja termangu. Entah sampai kapan ia duduk dengan kebingungannya di ambang pintu?

Sepasang matanya redup. Ia terlihat menyesal. Sebuah nama yang ia tulis pada telapak tangannya sudah semakin memudar. Meski demikian, ia tidak mau menuliskannya lagi, namun ia juga tidak ingin bila tulisan tersebut sampai lenyap tanpa sisa di kulit tangannya yang lembut. Baginya, terhapusnya nama itu, sama halnya dengan terhapusnya harapan untuk berjumpa dengan Marsus, lelaki dambaan hatinya. Lelaki yang sering ia tuliskan namanya di telapak tangan lembutnya.

Begitulah kebiasaan perempuan itu. Ia sering kali menulis nama lelaki itu di telapak tangannya. Ia lakukan apabila sedang terdiam sambil menunggu kedatangannya. Karena dengan begitu, ia merasa kejenuhannya akan sedikit terobati dalam keadaan menunggu. Dan entah, karena kebetulan atau bukan, setiap kali ia menunggu terlalu lama, dan ia menuliskan nama ‘Marsus’ di telapak tangannya—tiba-tiba lelaki yang ditunggunya itu segera datang.

***

Pernah suatu ketika, lelaki itu janji bertemu dengan perempuan tersebut di sebuah kantin tak jauh dari kampus. Jam 08.45 pagi ia sudah duduk di sebuah kursi. Jam 09.00 Marsus berjanji akan datang menemuinya di kantin. Sampai pada jam yang ditentukan, lelaki itu belum juga datang.

Ia mulai gelisah, karena pada jam 09.20 ada jadwal kuliah. Sebermula perempuan itu menunggu sambil memegangi sebuah pena. Ia putar-putar benda tersebut di jemarinya. Sesekali ia patuk-patukkan ke bibirnya. Lantas menulis-nulis di telapak tangannya. Awal mula, apa saja ia tuliskan untuk mengusir kekesalan dan kejenuhannya dalam menunggu, termasuk menulis nama Marsus, lelaki yang ia tunggu-tunggu. Tanpa dinyana, tiba-tiba lelaki itu muncul dari arah belakang perempuan itu. Senyum sumringah tumpah ruah di bibirnya yang indah.

Mereka pun mengobrol seperlunya. Marsus memegangi tangan lembutnya. Sebermula, perempuan itu menolak saat lelaki itu meraih. Namun karena dalih hendak menghapus tinta yang mengotori kulit tangannya itu, akhirnya ia mengulurkan tangannya kepada lelaki itu penuh kebimbangan. Bimbang dan takut akan dosa yang kini bercokol di dalam hatinya. Maklum, perempuan pondok yang baru saja menjadi mahasiswa, dan baru pertama kali mengenal dekat, bahkan merasakan kehangatan bersama sosok lelaki yang namanya sering ia tuliskan di telapak tangannya.

Dadanya berdegup kencang. Kujur tubuhnya gemetar. Bibir dan lidahnya terasa keluh saat Marsus pertama kali menyentuh kulit tangannya yang halus itu. Perlahan-lahan lelaki itu meyentuh dan menggosok tinta di telapaknya—dengan jemarinya. Perempuan itu kian gemetar. Panas dingin. Ia ingin menarik tangannya dari sentuhan lelaki itu. Namun berkali-kali ia coba menarik, seolah tak ada daya untuk menariknya. Otot-otot dalam persendian tubuhnya terasa kaku, dan aliran darahnya seolah membeku.

“Mas, sa-sa-saya mau kuliah.” Gugup, Suara perempuan itu serak. Lantas Marsus melepas tangannya pelan. Pelan sekali dengan penuh kelembutan. Keduanya saling bersitatap dan mengulum senyum menjelang perpisahan.

Pernah juga pada suatu senja di sebuah warung kopi. Marsus berjanji akan membantu mengerjakan tugas kuliah. Habis adzan asar perempuan itu sudah sampai di warung kopi. Sementara, Marsus tidak ia temukan di warung tersebut. Hingga menjelang adzan maghrib, lelaki itu belum juga datang.

Ia sudah mulai gelisah. Kegelisahannya hampir pada puncak kesedihan, bahkan kebencian. Sebab, sebelum adzan isya nanti ia sudah harus sampai di pondok, kalau tidak, pintu gerbang akan tutup. Hukuman akan ia terima dari pengurus pondok.

Ia menunggu dengan penuh kegetiran. Sekali-sekali menoleh dan menoleh. Tas warna orange yang dibiarkan tergeletak di sampingnya, ia ambil. Ia keluarkan sebuah pena warna merah. Pena itu ia putar-putar di jemarinya. Lantas ia patuk-patukkan ke lututnya. Ia buka tutup pena tersebut, lalu memukul-mukulkannya lagi ke lututnya. Lalu ia menuliskan apa saja di tangannya—untuk mengusir kegetiran yang kian sempurna merasuk jiwanya. Tanpa diduga, tiba-tiba dari belakang Marsus memukul bahunya. Sontak, perempuan itu terlonjak. Astagfirullah, serunya menoleh dengan kaget. Kerudung yang ia saungkan di kepala lepas hingga bahunya. Dengan sigap ia menarik dan menutupinya lagi ke kepala.

Lelaki itu tertawa melihat gelagat perempuan itu. Maaf, maaf. Katanya penuh penyesalan sambil mendekati perempuan itu. Orang-orang di warung kopi tertawa renyah sambil melempar pandangannya kepada perempuan itu. Ia tertunduk. Malu. Ada sebercak kekecewaan terhadap lelaki itu yang membuatnya tak punya muka di hadapan banyak orang. Lebih-lebih membuat auratnya terumbar kepada orang-orang di warung kopi tersebut, batinnya.

Marsus mencoba merayu agar perempuan tersebut memaafkan tindakannya, dan melupakan peristiwa tak disengaja itu. Namun, ia tetap diam mengunci bibirnya rapat-rapat. Tak mau berbicara sedikitpun terhadap Marsus. Ia bingung harus berucap apa.

Lelaki itu mendekat. Meraih tangan perempuan itu yang penuh dengan oretan tinta merah. Perempuan itu menahan tangannya. Namun Marsus dengan begitu kuat menarik tangan perempuan itu. Sebelum akhirnya, mereka saling mengulum senyum, dan lelaki itu pun berjanji tidak mengulang tindakannya lagi. Juga ia pun berjanji, tidak akan membuatnya menunggu lama lagi bila suatu ketika hendak bertemu.

***

Janji itu telah membuat luka hati perempuan tersebut. Entah, sampai kapan penantiannya di ambang pintu kampus kali ini? Ia telah berkali-kali menuliskan nama ‘Marsus’ di telapak tangannya, namun lelaki yang ditunggunya itu belum juga datang.

Perempuan yang bibirnya telah luka itu akhirnya menangis. Suaranya terisak. Ia lihat tulisan pada telapak tangannya sudah lenyap oleh keringat. Sementara, pena sudah ia lempar ke tempat sampah. Dengan lenyapnya nama yang ia tulis di telapak tangannya, dengan begitu pula lenyaplah harapan akan dapat berjumpa dengan sosok lelaki itu. Lelaki yang setiap malam selalu ia damba-dambakan kehadiran dalam tidurnya. Lelaki yang ia harap-harapkan menjadi bapak dari anaknya.

Dalam tangisnya, ia ingin sekali mengambil pena yang sudah ia buang ke tempat sampah. Lantas menuliskannya lagi sebuah nama lelaki itu dengan pena pemberiannya. Kalau-kalau, dengan begitu, mungkin saja sebercak harapan yang masih melekat dalam hatinya akan kehadiran Marsus dapat terwujud.

Perempuan itu beranjak ke tong sampah. Ia niat mengambil pena yang baru beberapa menit dilempar. Tetapi, pena itu sudah tak ada dalam tong sampah. Ia tidak merasa, bahwa setelah beberapa detik melempar pena tadi—seorang cleaning service datang membawa tong sampah dan menggantinya dengan tong lain. Kini, ia kembali termangu. Sesekali menoleh-noleh. Bayang-bayang lelaki itu selalu menyelinap dalam pandangannya. Pandangan sayu perempuan itu.

Lihat apa yang hendak perempuan itu lakukan? Lihat, ia mengeluarkan sebuah pisau dari tasnya. Ia manimang-nimang pisau tersebut di depan matanya. Lantas diletakkan di telapak tangannya. Ia pegang ujung pisau itu, lalu ia patuk-patukkan gagang pisau tersebut di lengannya: penuh keragu-raguan dan kebimbangan. Sekali-sekali ia menoleh dan menoleh lagi ke belakang, kalau-kalau lelaki itu telah datang menemuinya. Tetapi, harapannya itu tetap saja berujung kesia-siaan.

Gagang pisau itu terus saja ia patuk-patukkan ke tangannya. Bibirnya ia gigit kuat-kuat. Suara gemeretak giginya masih terdengar mengusik samar-samar. Sesekali ia menoleh lagi dan lagi. Lihatlah, air matanya mulai sedikit menetes. Ia pandangi perutnya. Sesekali dibelai-belai penuh iba dan penyesalan. Sementara, pisau ditangannya masih ia putar-putar, dibolak-balik, lantas mengarahkan ujungnya ke telapak tangannya. Dalam kesedihan, ia tuliskan nama ‘Marsus’ di telapak tangannya yang lembut itu dari ujung pisau tersebut.

Lihatlah, darah mungucur dari telapak tangannya. Bersamaan dengan kucuran air mata yang menghujani pipinya. Ia tekan terus kuat-kuat ujung pisau itu dalam menuliskan nama lelaki tersebut. Lantas, ia angkat pisaunya pelan-pelan, braakk!! Sontak, aku terkejut. Perempuan itu rubuh ke lantai. Tanpa kuduga, ternyata ia mengiris urat nadinya dari ujung pisau tersebut. Dan aku pun belum sempat untuk mencegahnya.

Aku ingin mendekati perempuan itu. Menolongnya. Namun, sepasang kakiku terasa berat melangkah, dan otot-ototnya terasa kaku. Saat itu pula, orang-orang telah berseleweran datang menghampiri perempuan itu. Aku hanya bisa diam terpaku.

Selang beberapa detik, seorang perempuan datang menghampiri perempuan yang tergeletak itu. Aku pun terkejut, ia adalah istriku--yang kini bertugas di poliklinik kampus. Ia memeriksa detak jantung perempuan itu. Meraih lengan tangannya. Dilihatnya sebuah luka berdarah dengan oretan bertulis ‘Marsus’.

M-a-r-s-u-s-, lantas ia menginja nama tersebut.

Orang-orang serentak melempar pandangannya pada telapak tangan perempuan itu. Mengija sebuah nama di telapak tangannya. Lantas mengalihkan lempar pandangannya tajam-tajam—setajam pisau yang tergeletak di sisi perempuan itu ke arahku. Tatapan-tapan sinis penuh kebencian tampak menusuk-nusuk jiwaku. Bahkan, api cemburu pun tiba-tiba terpancar dan berkobar dari mata istriku. Sementara, aku telah kebingungan bagaimana cara mengakhiri cerita ini, dan menjelaskannya kepada istriku?

Yogyakarta, November 2014

Sumber: Radar Surabya, 15 Februari 2015). 

0 comments: