Pagi-pagi buta, Juma’ sudah berdandan rapi, rambutnya disisir gaya anak muda belah pinggir. Agar supaya kelihatan mengkilat, diusapnya dengan minyak rambut klimis. Kumis tebal juga sudah ia cukur lebih tipis. Seluruh badan dan pakaiannya disemprot dengan parfum wangi yang sering diiklankan di tivi-tivi. Lalu dengan gayanya yang gagah, dia berangkat menjinjing tasnya bekerja.
Sebelum Juma’ pergi
meninggalkan anak dan istrinya, dia hanya mengitip pesan, “Jangan lupa Lia dibangunin sebelum berangkat nyuci, agar dia tidak kesiangan lagi
berangkat ke sekolah!” pesan Juma’ pada Suada, istrinya.
Suada sehari-hari bekerja
sebagai tukang cuci. Sementara Juma’, suaminya sebagai tukang tambal dinding rumah
yang mengelupas dan bocor milik tetangga. Saban hari Juma’ berangkat pagi-pagi
memenuhi panggilan orang yang atap rumahnya bocor kemasukan air hujan. Atau,
tembok rumahnya yang luka-luka dan mengelupas tak enak dipandang mata. Hanya
bermudal cedok dan semin untuk menambal luka-luka tembok atau dinding dan berbagai
atab bocor, semuanya jadi beres, bagus kembali seperti semula. Dengan begitu,
orang-orang yang merasa risih karena rumahnya terdapat beberapa celah dan
luka-luka, bahkan ada yang atap rumahnya bocor kemasukan air setiap kali turun hujan,—akan
menjadi nyaman setelah memanggil Juma’ selaku tukang tambal.
Beda dengan pekerjaan
Suada, yang sehari-hari selalu sibuk mencuci setumpuk pakaian milik tetangga.
Tak pilah-pilih pakaian lelaki atau perempuan, pakaian luar atau pun dalam,
semua tetap ia cuci bersih tak kalah bersihnya dengan hasil cucian mesin cuci.
Dengan memakai sabun cuci yang harum seperti yang sering diiklankan di
tivi-tivi, tak kalah harum dengan harumnya hasil cucian mesin cuci. Dengan
begitu orang memakai pakaiannya akan menjadi nyaman dan betah dengan pengharum
sabun yang Suadah gunakan.
Pernah suatu ketika,
secara kebetulan Juma’ dan Suada sama-sama bekerja pada Rahem, selaku kepala
desa di kampung tempat tinggalnya. Tentu Suada
sebagai tukang cuci—di minta untuk mencuci setumpuk pakaian keluarga
Rahem. Dan Juma’ sebagai tukang tambal, di minta untuk menambal tembok-tembok dan
dinding rumah Rahem yang luka-luka dan mengelupas, sekaligus memperbaiki atap
rumahnya yang bocor kemasukan air ketika turun hujan.
Pada waktu Juma’ sedang
memperbaiki atap rumah Rahem yang bocor itu, tampak jelas terlihat wajah
istrinya yang sedang sibuk mencuci setumpuk pakaian di sumur di belakang rumah
Rahem. Dilihatnya punggung dan pantat istrinya melengkung sambil
bergoyang-goyang. Sesekali berbarengan dengan tangan mengucek-ngucek pakaian kotor
yang masih menumpuk dihadapannya. Terlihat kulit hitam istrinya semakin tambah
gelap terpanggang sinar matahari. Begitu pun kulit Juma’ yang setiap hari
selalu berjemur, hitam serupa arang.
Juma’ tersenyum malu, tak
salah dia memilih Suada sebagai istri pendamping hidupnya. Dia perempuan yang
taat dan patuh pada ucapan suaminya. Dia bisa menerima kehidupan Juma’ apa
adanya. Tak pernah ada keluh kesah atas kesusahan jalan hidupnya. Suada selalu
bisa memahami dan menjalaninya penuh kesabaran dan selalu berusaha untuk menuai
kebahagiaannya bersama Juma’. Juma’ pun juga selalu perhatian pada Suada. Apa
pun yang Juma’ lakukan semata-mata untuk kesejahteraan hidupnya bersama Suada.
***
Pagi-pagi sekali, Juma’
berdandan rapi seperti biasanya, rambut disisir belah pinggir, diusap dengan
minyak rambut mengkilat, badannya disemprot dengan parfum. Tak lama kemudian dia
berangkat ke rumah Rahem untuk menyelesaikan pekerjaannya sisa kemaren. Seperti
biasa, dia tak lupa menitip pesan kepada istrinya, “Jangan lupa membangunkan
Lia sebelum berangkat nyuci, biar nggak kesiangan berangkat ke sekolah!”.
“Iya..” Jawab istrinya singkat disertai senyum manis sebelum Juma’ meninggalkannya.
Berbekal sumringah bibir
manis sang istri, Juma’ berangkat bekerja penuh semangat. Kali ini adalah
pekerjaan terakhir Juma’ di rumah Rahem setelah beberapa hari berturut-turut
dia bekerja di sana.
Entah seberapa lama Juma’
berjalan menjejali jalan setapak menuju rumah Rahem, sesampainya di sana Rahem
menyambutnya dengan senyum ramah. Dan sebagai orang kecil, Juma’ merasa sangat senang
sekali karena baru kali ini ia disambut baik oleh Rahem sebagai orang besar di
kampungnya.
“Sendiri, Ma’? Mana istrimu?
Dia kan harus menyelesaikan cuciannya
juga hari ini,” tanya kepala desa itu kepada Juma’.
“Dia masih menunggu Lia berangkat
ke sekolah, Pak.” Juma’ tersenyum tipis. Lalu Rahem segera menyilahkannya masuk
rumah.
Saat Juma’ dan Rahem sedang
berbicang-bincang renyah, lalu Masna, istri Rahem datang memberikan secangkir
kopi hangat dan sebungkus rokok, “Silahkan diminum!” Ucap Masna, istri Rahem dengan
lembut. Kemudian dia pergi meninggalkannya.
“Semua bahan-bahannya
masih ada untuk menambal dinding-dinding dan atab yang bocor itu?” Tanya Rahem kepada
Juma’. “Di ruang tamu masih banyak tembok yang mengelupas, jangan lupa di
tambal juga!” lanjutnya.
Juma’ mengangguk semangat.
Kemudian ia keluarkan semua peralatan dari dalam tas untuk melanjutkan sisa pekerjaannya.
“Santai saja dulu, Ma’, masih terlalu pagi, nikmati saja dulu kopinya, lagian
istrimu juga belum datang yang mau nyuci sisa pakaian kotor,” cegah Rahem.
“Biar cepat selesai, Pak.” Jawab Juma’ sembari berdiri menuju ruang tamu.
Dilihatnya beberapa tembok luka-luka dan mengelupas. Diambillah tangga, ia
letakkan tepat di tembok yang mengelupas tersebut untuk kemudian dikebas-kebas
sebelum akhirnya ia tambal.
Tidak lama berselang, Suada,
istri Juma’ datang untuk mencuci setumpuk pakaian sisa kemaren. Namun sebelum
itu, Masna, istri Rahem minta ditemani pergi ke pasar untuk belanja, “Nanti
kalau pekerjaanmu dan suamimu sudah selesai, kita bisa makan-makan bareng,” ujar
Masna pada Suada. Suada hanya mengangguk-angguk pelan. Kemudian bergegaslah
mereka ke pasar.
Setelah dari pasar, Suada langsung mengambil setumbuk pakaian kotor
sisa kemaren untuk dicuci. Kemudian ia redam beberapa menit dalam bak yang
berisi air terlebih dulu. Selang beberapa menit, tangan Suada mulai bergerak mengucek-ngucek
satu persatu pakaian kotor itu; baju, celana, rok, dan sebagainya. Pantatnya menungging
bergoyang-goyang seperti goyangan artis dangdut ternama ketika bernyanyi di
atas panggung, rambut lurusnya tergerai-keprakan berjatuhan, mukanya basah penuh keringat, dari
lehernya, hampir sampai buah dadanya, kalung permata berayun-ayun indah seindah
buah dada yang bergoyang-goyang membuat Rahem diam-diam menahan senyum saat
melihatnya.
“Masih lama cuciannya?”
Tanya Rahem menghampiri Suada.
“Sebentar lagi, Pak, tinggal
tiga pakaian; baju, kerudung, dan celana Pak Rahem,” jawab Suada tersenyum manis. Suada terus melanjutkan pekerjaannya. Namun dari raut
wajahnya tersirat lelah yang sedang ia rasakan.
“Istirahat dulu kalau
sudah capek,” ujar Rahem.
“Nanggung, Pak, cuma tinggal
sedikit,” jawab Suada sambil tersenyum melirik Rahem. Meskipun sebenarnya Suada
sudah memang benar-benar lelah, tapi dia sempat mengumbar senyum bila ia ingat bahwa
Rahem akan segera membayar pekerjaannya hari ini, lelah terasa lenyap seketika.
Setelah cuciannya hampir
selesai, Rahem kembali menghampiri Suada yang masih basah kuyup dengan selembar kain tipis dari dada
hingga lutut.
Hampir-hampir buah dada yang hanya terbalut kain tipis itu terlihat seperti kulit asli. Kemudian setelah diam
sejenak, Rahem menjulurkan beberapa lembar uang kepada Suada. Suada terkejut.
“Banyak sekali, Pak, kan cuma untuk bayaran pekerjaan dua hari?” ujar
Suada bimbang.
“Pekerjaanmu sangat
bagus!” Puji Rahem.
“Apa keahlianmu hanya
bisa mencuci?” Tanya Rahem kemudian.
“Saya bisa bekerja apa
saja, Pak, yang penting halal,” jawab Suada
disertai senyum.
“Kamu bisa mijat? Badanku
pegal-pegal semua,” tanya bapak kepala
desa itu.
Suada melotot, ada yang
sedang ia pikirkan dalam benaknya. Tampa ada isyarat kalau Suada setuju dengan
permintaan Rahem untuk memijatnya, hanya dengan isyarat saling pandang, kepala desa itu langsung mendekati Suada pelan,
pelan sekali! Lalu dia meraih tangan Suada, dan
diletakkannya di kedua bahunya.
“Bahuku sakit sekali!” ucap Rahem pelan.
Dalam posisi yang masih
berdiri itu, tanpa Suada duga Rahem meraba sebagian tubuhnya dengan nakal. Pelan-pelan
tangan Rahem akhirnya hinggap di dada Suada. Suada ingin
sekali memberontak. Tapi tak bisa, mulutnya seperti terkunci, bibirnya tertutup
rapat. “Jangan, Pak! Nanti ketahuan istri Bapak.” Suara Suada serak. Pelan-pelan
Rahem juga mulai mengusap rambut Suada. Hendak ia menciumnya, braakkkk…. Sontak terdengar suara nyaring jatuh di ruang tamu.
Suada terhenyak, bola matanya
melotot. Setelah beberapa detik terdiam, di susul suara teriakan Masna, istri
Rahem, “Juma’ terjatuh...! Juma’ terjatuh dari tangga...!!!” Mendengar teriakan
Masna, spontan Suada berlari menuju kamar tamu dengan pakaian yang masih basah
dan rambut bergerai.
Suada diam bergeming, menahan
air mata yang hampir jatuh. Di lantai, darah berceceran, Juma’ terbaring lemas.
Suada menghampirinya, mendekapnya. Sesekali menciumnya. Sementara si kepala desa itu hanya diam dibelakang Suada, sesekali menggeleng-gelengkan kepala melihat Juma’
tergeletak berlumuran darah. Setelah sebentar, ia membalikkan
badan, pergi meninggalkan Suada yang sedang tersipu
tak berdaya disamping suaminya.
Yogyakarta, 26 Februari
2011
sumber: Radar Madura, 26 Juni 2011.


0 comments:
Post a Comment