Tukang Tambal dan Tukang Cuci

Oleh Marsus

 Pagi-pagi buta, Juma’ sudah berdandan rapi, rambutnya disisir gaya anak muda belah pinggir. Agar supaya kelihatan mengkilat, diusapnya dengan minyak rambut klimis. Kumis tebal juga sudah ia cukur lebih tipis. Seluruh badan dan pakaiannya disemprot dengan parfum wangi yang sering diiklankan di tivi-tivi. Lalu dengan gayanya yang gagah, dia berangkat menjinjing tasnya bekerja.
Sebelum Juma’ pergi meninggalkan anak dan istrinya, dia hanya mengitip pesan, “Jangan lupa Lia dibangunin sebelum berangkat nyuci, agar dia tidak kesiangan lagi berangkat ke sekolah!” pesan Juma’ pada Suada, istrinya.
Suada sehari-hari bekerja sebagai tukang cuci. Sementara Juma’, suaminya sebagai tukang tambal dinding rumah yang mengelupas dan bocor milik tetangga. Saban hari Juma’ berangkat pagi-pagi memenuhi panggilan orang yang atap rumahnya bocor kemasukan air hujan. Atau, tembok rumahnya yang luka-luka dan mengelupas tak enak dipandang mata. Hanya bermudal cedok dan semin untuk menambal luka-luka tembok atau dinding dan berbagai atab bocor, semuanya jadi beres, bagus kembali seperti semula. Dengan begitu, orang-orang yang merasa risih karena rumahnya terdapat beberapa celah dan luka-luka, bahkan ada yang atap rumahnya bocor kemasukan air setiap kali turun hujan,—akan menjadi nyaman setelah memanggil Juma’ selaku tukang tambal.
Beda dengan pekerjaan Suada, yang sehari-hari selalu sibuk mencuci setumpuk pakaian milik tetangga. Tak pilah-pilih pakaian lelaki atau perempuan, pakaian luar atau pun dalam, semua tetap ia cuci bersih tak kalah bersihnya dengan hasil cucian mesin cuci. Dengan memakai sabun cuci yang harum seperti yang sering diiklankan di tivi-tivi, tak kalah harum dengan harumnya hasil cucian mesin cuci. Dengan begitu orang memakai pakaiannya akan menjadi nyaman dan betah dengan pengharum sabun yang Suadah gunakan.
Pernah suatu ketika, secara kebetulan Juma’ dan Suada sama-sama bekerja pada Rahem, selaku kepala desa di kampung tempat tinggalnya. Tentu Suada  sebagai tukang cuci—di minta untuk mencuci setumpuk pakaian keluarga Rahem. Dan Juma’ sebagai tukang tambal, di minta untuk menambal tembok-tembok dan dinding rumah Rahem yang luka-luka dan mengelupas, sekaligus memperbaiki atap rumahnya yang bocor kemasukan air ketika turun hujan.
Pada waktu Juma’ sedang memperbaiki atap rumah Rahem yang bocor itu, tampak jelas terlihat wajah istrinya yang sedang sibuk mencuci setumpuk pakaian di sumur di belakang rumah Rahem. Dilihatnya punggung dan pantat istrinya melengkung sambil bergoyang-goyang. Sesekali berbarengan dengan tangan mengucek-ngucek pakaian kotor yang masih menumpuk dihadapannya. Terlihat kulit hitam istrinya semakin tambah gelap terpanggang sinar matahari. Begitu pun kulit Juma’ yang setiap hari selalu berjemur, hitam serupa arang.
Juma’ tersenyum malu, tak salah dia memilih Suada sebagai istri pendamping hidupnya. Dia perempuan yang taat dan patuh pada ucapan suaminya. Dia bisa menerima kehidupan Juma’ apa adanya. Tak pernah ada keluh kesah atas kesusahan jalan hidupnya. Suada selalu bisa memahami dan menjalaninya penuh kesabaran dan selalu berusaha untuk menuai kebahagiaannya bersama Juma’. Juma’ pun juga selalu perhatian pada Suada. Apa pun yang Juma’ lakukan semata-mata untuk kesejahteraan hidupnya bersama Suada.
***
Pagi-pagi sekali, Juma’ berdandan rapi seperti biasanya, rambut disisir belah pinggir, diusap dengan minyak rambut mengkilat, badannya disemprot dengan parfum. Tak lama kemudian dia berangkat ke rumah Rahem untuk menyelesaikan pekerjaannya sisa kemaren. Seperti biasa, dia tak lupa menitip pesan kepada istrinya, “Jangan lupa membangunkan Lia sebelum berangkat nyuci, biar nggak kesiangan berangkat ke sekolah!”. “Iya..” Jawab istrinya singkat disertai senyum manis sebelum Juma’ meninggalkannya.
Berbekal sumringah bibir manis sang istri, Juma’ berangkat bekerja penuh semangat. Kali ini adalah pekerjaan terakhir Juma’ di rumah Rahem setelah beberapa hari berturut-turut dia bekerja di sana.
Entah seberapa lama Juma’ berjalan menjejali jalan setapak menuju rumah Rahem, sesampainya di sana Rahem menyambutnya dengan senyum ramah. Dan sebagai orang kecil, Juma’ merasa sangat senang sekali karena baru kali ini ia disambut baik oleh Rahem sebagai orang besar di kampungnya.
“Sendiri, Ma’? Mana istrimu? Dia kan harus menyelesaikan cuciannya juga hari ini,” tanya kepala desa itu kepada Juma’.
“Dia masih menunggu Lia berangkat ke sekolah, Pak.” Juma’ tersenyum tipis. Lalu Rahem segera menyilahkannya masuk rumah.
Saat Juma’ dan Rahem sedang berbicang-bincang renyah, lalu Masna, istri Rahem datang memberikan secangkir kopi hangat dan sebungkus rokok, “Silahkan diminum!” Ucap Masna, istri Rahem dengan lembut. Kemudian dia pergi meninggalkannya.
“Semua bahan-bahannya masih ada untuk menambal dinding-dinding dan atab yang bocor itu?” Tanya Rahem kepada Juma’. “Di ruang tamu masih banyak tembok yang mengelupas, jangan lupa di tambal juga!” lanjutnya.
Juma’ mengangguk semangat. Kemudian ia keluarkan semua peralatan dari dalam tas untuk melanjutkan sisa pekerjaannya. “Santai saja dulu, Ma’, masih terlalu pagi, nikmati saja dulu kopinya, lagian istrimu juga belum datang yang mau nyuci sisa pakaian kotor,” cegah Rahem. “Biar cepat selesai, Pak.” Jawab Juma’ sembari berdiri menuju ruang tamu. Dilihatnya beberapa tembok luka-luka dan mengelupas. Diambillah tangga, ia letakkan tepat di tembok yang mengelupas tersebut untuk kemudian dikebas-kebas sebelum akhirnya ia tambal.
Tidak lama berselang, Suada, istri Juma’ datang untuk mencuci setumpuk pakaian sisa kemaren. Namun sebelum itu, Masna, istri Rahem minta ditemani pergi ke pasar untuk belanja, “Nanti kalau pekerjaanmu dan suamimu sudah selesai, kita bisa makan-makan bareng,” ujar Masna pada Suada. Suada hanya mengangguk-angguk pelan. Kemudian bergegaslah mereka ke pasar.
Setelah dari pasar, Suada langsung mengambil setumbuk pakaian kotor sisa kemaren untuk dicuci. Kemudian ia redam beberapa menit dalam bak yang berisi air terlebih dulu. Selang beberapa menit, tangan Suada mulai bergerak mengucek-ngucek satu persatu pakaian kotor itu; baju, celana, rok, dan sebagainya. Pantatnya menungging bergoyang-goyang seperti goyangan artis dangdut ternama ketika bernyanyi di atas panggung, rambut lurusnya tergerai-keprakan berjatuhan, mukanya basah penuh keringat, dari lehernya, hampir sampai buah dadanya, kalung permata berayun-ayun indah seindah buah dada yang bergoyang-goyang membuat Rahem diam-diam menahan senyum saat melihatnya.
“Masih lama cuciannya?” Tanya Rahem menghampiri Suada.
“Sebentar lagi, Pak, tinggal tiga pakaian; baju, kerudung, dan celana Pak Rahem,” jawab Suada tersenyum manis. Suada terus melanjutkan pekerjaannya. Namun dari raut wajahnya tersirat lelah yang sedang ia rasakan.
“Istirahat dulu kalau sudah capek,” ujar Rahem.
“Nanggung, Pak, cuma tinggal sedikit,” jawab Suada sambil tersenyum melirik Rahem. Meskipun sebenarnya Suada sudah memang benar-benar lelah, tapi dia sempat mengumbar senyum bila ia ingat bahwa Rahem akan segera membayar pekerjaannya hari ini, lelah terasa lenyap seketika.
Setelah cuciannya hampir selesai, Rahem kembali menghampiri Suada yang masih basah kuyup dengan selembar kain tipis dari dada hingga lutut. Hampir-hampir buah dada yang hanya terbalut kain tipis itu terlihat seperti kulit asli. Kemudian setelah diam sejenak, Rahem menjulurkan beberapa lembar uang kepada Suada. Suada terkejut.
“Banyak sekali, Pak, kan cuma untuk bayaran pekerjaan dua hari?” ujar Suada bimbang.
“Pekerjaanmu sangat bagus!” Puji Rahem.
“Apa keahlianmu hanya bisa mencuci?” Tanya Rahem kemudian.
“Saya bisa bekerja apa saja, Pak, yang penting halal,” jawab Suada disertai senyum.
“Kamu bisa mijat? Badanku pegal-pegal semua,” tanya bapak kepala desa itu.
Suada melotot, ada yang sedang ia pikirkan dalam benaknya. Tampa ada isyarat kalau Suada setuju dengan permintaan Rahem untuk memijatnya, hanya dengan isyarat saling pandang, kepala desa itu langsung mendekati Suada pelan, pelan sekali! Lalu dia meraih tangan Suada, dan diletakkannya di kedua bahunya.
 “Bahuku sakit sekali!” ucap Rahem pelan.
Dalam posisi yang masih berdiri itu, tanpa Suada duga Rahem meraba sebagian tubuhnya dengan nakal. Pelan-pelan tangan Rahem akhirnya hinggap di dada Suada. Suada ingin sekali memberontak. Tapi tak bisa, mulutnya seperti terkunci, bibirnya tertutup rapat. “Jangan, Pak! Nanti ketahuan istri Bapak.” Suara Suada serak. Pelan-pelan Rahem juga mulai mengusap rambut Suada. Hendak ia menciumnya, braakkkk…. Sontak terdengar suara nyaring jatuh di ruang tamu.
Suada terhenyak, bola matanya melotot. Setelah beberapa detik terdiam, di susul suara teriakan Masna, istri Rahem, “Juma’ terjatuh...! Juma’ terjatuh dari tangga...!!!” Mendengar teriakan Masna, spontan Suada berlari menuju kamar tamu dengan pakaian yang masih basah dan rambut bergerai.
Suada diam bergeming, menahan air mata yang hampir jatuh. Di lantai, darah berceceran, Juma’ terbaring lemas. Suada menghampirinya, mendekapnya. Sesekali menciumnya. Sementara si kepala desa itu hanya diam dibelakang Suada, sesekali menggeleng-gelengkan kepala melihat Juma’ tergeletak berlumuran darah. Setelah sebentar, ia membalikkan badan, pergi meninggalkan Suada yang sedang tersipu tak berdaya disamping suaminya.

Yogyakarta, 26 Februari 2011


sumber: Radar Madura, 26 Juni 2011.

0 comments: