Pinangan

Oleh: Marsus

Demikianlah sakit yang begitu perih ia rasakan. Meski airmatanya tak terlihat mengalir di pipi Hosriyani. Namun, setiap waktu sesak dadanya tak mampu ia bendung. Ah, bukan hanya dada, tapi lebih dalam lagi, di hatinya. Sehingga membawanya pada ingatan masa lampau. Dimana saat tempat tinggalnya masih teramat sepi dari kerumunan orang, dari lalulalang deru kendaraan. Dan hidup penuh tuntutan. Adat menjadi sebuah keputusan paling mujarab dalam menjawab persoalan. Entah persoalan yang terjadi pada dirinya, maupun bagi orang-orang di kampungnya.
Dialah Hosriyani, perempuan paruhbaya yang sudah beranak tiga. Ia melulu terdiam bimbang di teras rumah. Menenun nasib yang selama ini kerap menyergab. Menyayat hati dan jiwanya. Tak ada yang perlu disalahkan. Atau menyalahkan sang ibu dan ayah yang sudah tak ada? Ah, percuma! Jembatan hidup telah patah ia lampaui dengan sejuta kekecewaan. Dan kekecewaan demi kekecewaan terus menyapanya setelah Haji Saroji datang lagi ke rumahnya. Menyulam kembali peristiwa silam yang pernah menerpa hidup masa kanak-kanaknya.
Haji Saroji salah seorang pengasuh pondok pesantren di Pajagungan. Dia orang yang sangat dihormati dan dituakan. Setiap perkataanya selalu dianggap paling benar. Karena sebagai Pengasuh pesantren, tentulah orang-orang sering datang-pergi meminta doa dan nasehatnya: tentang pekerjaannya di sawah agar hasilnya diberi keberkahan, agar dijauhkan dari musibah, dan tentunya juga bisa cepat mendapat jodoh bagi yang belum punya pasangan.
Karena setiap doa dan ucapan Haji Saroji dianggap memberi berkah, maka, tak jarang beliau sering didatangi para pria yang hendak meminang seoarang gadis yang disukainya. Dimintai kerelaannya untuk meminangkan gadis tersebut kepada orang tuanya.
Demikianlah wajah dan sifat Haji Saroji. Hosriyani masih bisa mengingat betul dari samenjak pertama kali tahu saat dia datang ke rumah ayahnya dulu. Ya, Haji Saroji datang menemui Atrawi, menjadi perantara dari seorang pria, meminang Hosriyani yang masih kelas lima Ibtidaiyah. Dan entah, tanpa pikir panjang, sang ayah diam-diam menerima pinangan tersebut tanpa Hosriyani diberi tahu.
Dan kini, Haji Saroji datang lagi ke rumah Hosriyani. Tak ubahnya sesosok pahlawan yang hendak menaburkan sejuta kebahagiaan kepada Hosriyani. Haji Saroji datang untuk meminang putri Hosriyani yang masih kelas satu Tsanawiyah, untuk dinikahkan dengan seorang pria tampan anak dari kepala desa di kampungnya. Jamaluddin namanya. Dia sudah lulus sekolah Aliah. Dan tak lama lagi akan diangkat menjadi guru fiqih di sekolah madrasah Haji Saroji.
Jika Hosriyani masih ingat akan cerita ibunya dulu: bahwa guru ngajinya, Haji Saroji tentunya—telah banyak memberi berkah kepada dirinya, entah mulai dari peroasalan rizqi, pekerjaan di sawah, lebih-lebih kesenangan hidup keluarganya,--dan tentunya jika itu kita senantiasa mengamini doa dan mengikuti nasehat Haji Saroji. Dengan begitu, maka tak ada alasan lagi bagi Hosriyani untuk tidak menerima pinangan Haji Saroji.
Akan tetapi, entahlah apa yang kini membuat Hosriyani menolak keras saat Haji Saroji meminang putrinya yang cantik itu. Untuk dinikahkan dengan Jamaluddin, anak kepala desa di kampungnya?
“Maaf, Pak Kiai, saya tidak bisa menerimanya. Dengan alasan apa pun yang Pak Kiai katakan.” Haji Saroji sedikit terhenyak.
“Tapi, ini juga untuk masa depan kamu dan anakmu kelak.” Bujuk Haji Saroji, lelaki berwibawa dengan peci putih dan sorban putih melingkar di bahunya. Dia sudah kesekian kalinya membujuk Hosriyani.
“Pak Kiai bisa mencari gadis lain yang jauh lebih cantik dari anak saya.”
“Masalahnya, hanya Aminah, anak kamu yang disukai oleh Jamaluddin.”
“Terserah apa alasan Pak Kiai. Tapi saya tidak akan pernah merestui putri saya yang masih kelas satu Tsanawiyah itu menikah.” Hosriyani terdiam. Tetap kokoh pada pendiriannya.
Ia tak goyah sedikit pun meski diiming-imingi berbagai hal; dari kecerdasan yang dimiliki oleh Jamaluddin, seperti: fasih membaca al-Qur’an, hafal surat yasin dan tahlil, banyak hafal surat-surat pendek untuk dibacakan ketika menjadi imam saat solat berjamaah, dan malahan, tak lama lagi Jamaluddin akan diangkat menjadi guru fiqih di sekolah madrasah Haji Saroji. Lain lagi dengan ayah Jamaluddin, yang sudah dinomor satukan dikampungnya karena jabatan dan kekayaannya. Dia bilang, kalau Hosriyani mau menerimanya, dia siap menanggung semua biaya pernikahan anaknya. Mungkin dengan begitu, Haji Saroji mengira, Hosriyani akan tergoda dan terlena dengan tawarannya di saat ia sedang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan untuk membiayai tiga orang anaknya melanjutkan sekolah.
Ah, barangkali Haji Saroji belum tahu.., kalau dulu, almarhum suami Hosriyani juga pernah bermaksud untuk menjodohkan salah seorang putrinya saat ia masih kecil. Putrinya akan dijodohkan dengan seorang pria anak dari seorang pengusaha garam yang sudah kaya. Namun, ia menolak atas tawaran suaminya. Ia lebih memilih hidup bersama tiga anaknya meski sedikit susah, daripada harus merelakan sang anak nikah mudah seperti dirinya dulu.
Bila ada yang bertanya kepada Hosriyani.
“Kenapa menolak pinangan Jamaluddin?”
“Belum waktunya.” Jawabnya sambil mengulum senyum tipis.
Bahkan, ia kadang merasa sedikit jengkel. Ketika sebagian kerabatnya ikut-ikutan membujuknya. Mendukung agar Aminah sebaiknya lekas dinikahkan dengan Jamaluddin.
“Biar mengurangi beban hidupmu, Hos! Perempuan tidak mungkin pergi kemana. Tetap di rumah. Terima saja lamaran Jamaluddin, jangan kau sia-siakan! Semua orang tua yang punya anak perempuan di kampung ini pada mengharap pinangan anak dari kepala desa itu. Tapi sayang, dia lebih memilih putrimu.”
“Dan jangan lupa satu lagi, Hos! Sekali kamu menolak pinangan yang sudah direstui oleh Pak Kiai, alamat nanti anakmu menjadi perawan tua!” Candanya sambil tersenyum geli.
“Kamu akan menyesal!” Timpal yang lain.
Hosriyani diam dibalik ketidak pahaman. Tak menjawab bujukan-rayu mereka. Sebelum akhirnya adzan magrib berkumandang dari masjid di samping rumahnya. Dan ibu-ibu yang berkumpul di teras rumahnya mulai beranjak pulang ke rumah masing-masing.
***
Mendengar cerita sang ibu. Aminah langsung tertunduk. Ia paham terhadap apa yang dipikirkan ibunya, mengapa sang ibu menolak pinangan itu? Bagi Hosriyani, Aminah seolah diibaratkan benih yang tertanam di benak ibunya. Ia tak mau kalau benih itu akan tidak tumbuh lagi sebab pinangan. Dan kini benih tersebut telah ia sematkan kembali dalam diri Aminah dan adik-adiknya. Bahkan, Aminah masih ingat kata sang ibu, bila kelak dia sudah lulus sekolah Tsanawiyah, ia akan dimasukkan ke pondok pesantren salaf di negeri yang jauh. Aminah hanya mengiyakan saja menanggapi keinginan ibunya itu. Meski di lain sisi di benak Aminah, ia tak bisa memungkiri, bahwa sang ibu hanyalah berangan-angan, dan angan-angan itu bisa terwujud bisa pula gagal.
Aminah sempat melongok. Lalu kembali tertunduk. Airmatanya hampir saja membuncah. Ada yang ia sembunyikan. Namun ia tak sanggup untuk mengutarakan. Takut! Sungguh merasa benar-benar takut bila rasa cinta di hatinya hanya akan melukai perasaan ibunya. Dan sebenarnya, ia juga menyayangkan, kenapa sang ibu tidak menerima pinangan Jamaluddin?
Ia tidak bisa berbuat banyak dengan keputusan ibunya. Ia tak tahu, dengan cara apa agar sang ibu bisa memahami keberadaannya. Tanpa harus ia ungkap semua yang telah terjadi kepada dirinya? Entahlah, tiba-tiba ia merasa terpukul, ketika sang ibu dengan bersikukuh pada keputusan menolak pinangan Jamaluddin. Sementara dibalik hatinya, ada kekesalan yang semakin hari menambah hidupnya semakin terkekang. Bimbang, juga merasa ketakutan.
***
Orang-orang di kampung gaduh. Tegang! Mendengar berita, dari mulut ke mulut yang tak jelas itu.
“Aminah hamil.”
“Aminah hamil?”
“Ya. Aminah hamil.”
“Manamungkin?”
Orang lalu lalang di jalan tak beraspal di samping rumah Hosriyani. Debu-debu mengepul tebal memenuhi dinding-dinding rumahnya. Melongok. Melihat ke dalam rumahnya. Tapi, di rumah tua yang berdebu itu. Tak terlihat sesosok pun yang muncul. Bahkan jemuran yang biasanya sering bergelantungan di beranda rumahnya, kini tak ada. Sepi. Sunyi. Kecuali hanya lamat-lamat suara isak tangis yang terdengar dari rumah tua itu.
“Siapa yang menghamili?”
“Masih belum diketahui.”
Hufs, itu hanya fitnah. Jangan dipanjang-panjangkan!”
“Tapi perut Aminah sudah terlihat buncit. Makanya dia tidak berani keluar rumah lagi.”
Hening. Tak ada yang berkomentar lagi!
Dari dalam rumah Hosriyani, suara isak tangis itu masih terdengar samar-samar. Hampir saja tidak terdengar! Setiap kali orang melintas di samping rumah itu, dia merasa terpanggil ingin masuk ke dalamnya. Untuk sekedar tahu, benar tidaknya kalau tangis itu adalah tangis sedih Aminah? Namun, ah tidak mungkin. Itu hanya akan menambah kegaduhan di kampung ini.
Pajagungan riuh dengan beredarnya kabar itu. Mungkin karena ini kali pertama kabar tak sedap yang cukup mencenangkan di kepala mereka. Dan bila kabar itu benar-benar nyata terjadi pada Aminah, tentu citra baik Pajagungan, lebih-lebih Pengasuh pesantren di kampung itu, Haji Saroji tentunya, akan merasa sangat dipermalukan. Dan, Haji Saroji sebagai orang yang dinomor satukan dan menjadi panutan masyarakat di kampung tersebut, tentu dia merasa punya tanggunjawab atas kejadian yang menimpa muridnya.
***
Setelah selintingan tentang kehamilan Aminah yang tak tentu benar itu sampai pada Hosriyani, seketika ia tersipu. Air matanya mengalir bercucuran ke pipinya. Tak seberapa lama dari sayup suara tangis Aminah. Hosriyani lalau mendekatinya. Bersitatap. Aminah merunduk. Kemudian ada seseorang yang datang mengetuk pintu. Ia tersentak, sama-sama melongok, melihat seseorang yang datang ke rumahnya.
Haji Saroji. Ya, dia datang lagi ke rumah Hosriyani. Kini dia datang bukan lagi seperti saat hendak meminang Aminah untuk dinikahkan dengan Jamaluddin. Melainkan datang layaknya hendak mengadili muridnya yang telah berbuat kesalahan.
“Bagaimana ini bisa terjadi?” Tanyanya kemudian. Wajahnya sedikit garang.
Hosriyani diam. Dari dalam kamar suara isak anaknya mulai sedikit terdengar.
“Benar kabar itu terjadi pada anakmu?”
“Benar, Pak Kiai!”
Hening. Keduanya diam tertunduk sembari menelan ludah dua kali.
“Dengan siapa? Kau sudah tanya Aminah?” Lanjutnya.
“Sudah, Pak Kiai.”
“Siapa?”
“Anak kepala desa itu.”
“Jamaluddin?”
“Benar, Pak Kiai.”
Sontak, Haji Saronji tersentak. Sesekali menggelengkan kepalanya kerkali-kali.
“Ini harus segera dinikahkan!” Lanjutnya.
Ia kembali menelan ludah. Sementara lamat-lamat tangis Aminah semakin lama semakin jelas terdengar. Dalam benaknya, ingin sekali memberontak atas ucapan Haji Saroji. Bahkan ia ingin sekali menampar dan memukul tubuh Jamaluddin sampai dia merajuk kesakitan. Sebagaimana anaknya yang kini sedang menangis dipermalukan.
Namun, niatnya itu hanya menjadi sia-sia. Setelah ia tahu dari pengakuan anaknya, kalau dia sudah saling menyukai semenjak mereka bertemu di sekolah dulu. Dan ia hanya bisa diam. Meredam amarah yang semakin merajuk dalam hatinya. Dan entahlah kini seberapa kuat dan gigihnya seorang Hosriyani akan tetap menolak pinangan Haji Saroji agar putrinya itu segera dinikahkan dengan Jamaluddin?
 Yogyakarta, Maret 2012
Sumber: Radar Madura, 24 Juni 2012.


0 comments: