Demikianlah sakit yang begitu perih
ia rasakan. Meski airmatanya tak terlihat mengalir di pipi Hosriyani. Namun,
setiap waktu sesak dadanya tak mampu ia bendung. Ah, bukan hanya
dada, tapi lebih dalam lagi, di hatinya. Sehingga membawanya pada
ingatan masa lampau. Dimana saat tempat tinggalnya masih teramat sepi dari
kerumunan orang, dari lalulalang deru kendaraan. Dan hidup penuh tuntutan. Adat
menjadi sebuah keputusan paling mujarab dalam menjawab
persoalan. Entah persoalan yang terjadi pada dirinya, maupun
bagi orang-orang di kampungnya.
Dialah Hosriyani, perempuan
paruhbaya yang sudah beranak tiga. Ia melulu terdiam bimbang di teras rumah.
Menenun nasib yang selama ini kerap menyergab. Menyayat hati dan jiwanya. Tak
ada yang perlu disalahkan. Atau menyalahkan sang ibu dan ayah yang sudah tak
ada? Ah, percuma! Jembatan hidup telah patah ia lampaui dengan
sejuta kekecewaan. Dan kekecewaan demi kekecewaan terus menyapanya setelah Haji
Saroji datang lagi ke rumahnya. Menyulam kembali peristiwa silam yang pernah
menerpa hidup masa kanak-kanaknya.
Haji Saroji salah seorang pengasuh
pondok pesantren di Pajagungan. Dia orang yang sangat dihormati dan dituakan.
Setiap perkataanya selalu dianggap paling benar. Karena sebagai Pengasuh
pesantren, tentulah orang-orang sering datang-pergi meminta doa dan
nasehatnya: tentang pekerjaannya di sawah agar hasilnya diberi keberkahan,
agar dijauhkan dari musibah, dan tentunya juga bisa cepat mendapat jodoh bagi
yang belum punya pasangan.
Karena setiap doa dan ucapan Haji
Saroji dianggap memberi berkah, maka, tak jarang beliau sering
didatangi para pria yang hendak meminang seoarang gadis yang disukainya.
Dimintai kerelaannya untuk meminangkan gadis tersebut kepada orang tuanya.
Demikianlah wajah dan sifat Haji
Saroji. Hosriyani masih bisa mengingat betul dari samenjak pertama kali tahu
saat dia datang ke rumah ayahnya dulu. Ya, Haji Saroji datang menemui Atrawi,
menjadi perantara dari seorang pria, meminang Hosriyani yang masih kelas lima
Ibtidaiyah. Dan entah, tanpa pikir panjang, sang ayah diam-diam menerima
pinangan tersebut tanpa Hosriyani diberi tahu.
Dan kini, Haji Saroji datang
lagi ke rumah Hosriyani. Tak ubahnya sesosok pahlawan yang hendak menaburkan
sejuta kebahagiaan kepada Hosriyani. Haji Saroji datang untuk meminang putri
Hosriyani yang masih kelas satu Tsanawiyah, untuk dinikahkan dengan seorang
pria tampan anak dari kepala desa di kampungnya. Jamaluddin namanya. Dia sudah
lulus sekolah Aliah. Dan tak lama lagi akan diangkat menjadi guru fiqih di
sekolah madrasah Haji Saroji.
Jika Hosriyani masih ingat akan
cerita ibunya dulu: bahwa guru ngajinya, Haji Saroji tentunya—telah banyak
memberi berkah kepada dirinya, entah mulai dari peroasalan rizqi,
pekerjaan di sawah, lebih-lebih kesenangan hidup keluarganya,--dan tentunya
jika itu kita senantiasa mengamini doa dan mengikuti nasehat Haji Saroji.
Dengan begitu, maka tak ada alasan lagi bagi Hosriyani untuk tidak
menerima pinangan Haji Saroji.
Akan tetapi, entahlah apa yang kini
membuat Hosriyani menolak keras saat Haji Saroji meminang putrinya yang cantik
itu. Untuk dinikahkan dengan Jamaluddin, anak kepala desa di kampungnya?
“Maaf, Pak Kiai, saya tidak bisa
menerimanya. Dengan alasan apa pun yang Pak Kiai katakan.” Haji Saroji sedikit
terhenyak.
“Tapi, ini juga untuk masa depan
kamu dan anakmu kelak.” Bujuk Haji Saroji, lelaki berwibawa dengan peci putih
dan sorban putih melingkar di bahunya. Dia sudah kesekian kalinya membujuk
Hosriyani.
“Pak Kiai bisa mencari gadis lain
yang jauh lebih cantik dari anak saya.”
“Masalahnya, hanya Aminah, anak
kamu yang disukai oleh Jamaluddin.”
“Terserah apa alasan Pak Kiai. Tapi
saya tidak akan pernah merestui putri saya yang masih kelas satu Tsanawiyah itu
menikah.” Hosriyani terdiam. Tetap kokoh pada pendiriannya.
Ia tak goyah sedikit pun meski
diiming-imingi berbagai hal; dari kecerdasan yang dimiliki
oleh Jamaluddin, seperti: fasih membaca al-Qur’an, hafal surat yasin
dan tahlil, banyak hafal surat-surat pendek untuk dibacakan ketika menjadi imam
saat solat berjamaah, dan malahan, tak lama lagi Jamaluddin akan
diangkat menjadi guru fiqih di sekolah madrasah Haji Saroji. Lain lagi dengan
ayah Jamaluddin, yang sudah dinomor satukan dikampungnya
karena jabatan dan kekayaannya. Dia bilang, kalau Hosriyani mau
menerimanya, dia siap menanggung semua biaya pernikahan anaknya. Mungkin dengan
begitu, Haji Saroji mengira, Hosriyani akan tergoda dan terlena dengan
tawarannya di saat ia sedang kesulitan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Bahkan untuk
membiayai tiga orang anaknya melanjutkan sekolah.
Ah, barangkali Haji Saroji belum tahu.., kalau dulu,
almarhum suami Hosriyani juga pernah bermaksud untuk menjodohkan salah seorang
putrinya saat ia masih kecil. Putrinya akan dijodohkan dengan seorang pria anak
dari seorang pengusaha garam yang sudah kaya. Namun, ia menolak atas tawaran
suaminya. Ia lebih memilih hidup bersama tiga anaknya meski sedikit susah,
daripada harus merelakan sang anak nikah mudah seperti dirinya dulu.
Bila ada yang bertanya kepada
Hosriyani.
“Kenapa menolak
pinangan Jamaluddin?”
“Belum waktunya.” Jawabnya sambil
mengulum senyum tipis.
Bahkan, ia kadang merasa sedikit
jengkel. Ketika sebagian kerabatnya ikut-ikutan membujuknya. Mendukung agar
Aminah sebaiknya lekas dinikahkan dengan Jamaluddin.
“Biar mengurangi beban
hidupmu, Hos! Perempuan tidak mungkin pergi kemana. Tetap di rumah. Terima
saja lamaran Jamaluddin, jangan kau sia-siakan! Semua orang tua
yang punya anak perempuan di kampung ini pada mengharap pinangan anak dari
kepala desa itu. Tapi sayang, dia lebih memilih putrimu.”
“Dan jangan lupa satu
lagi, Hos! Sekali kamu menolak pinangan yang sudah direstui oleh Pak Kiai,
alamat nanti anakmu menjadi perawan tua!” Candanya sambil tersenyum geli.
“Kamu akan menyesal!” Timpal yang
lain.
Hosriyani diam dibalik
ketidak pahaman. Tak menjawab bujukan-rayu mereka. Sebelum akhirnya
adzan magrib berkumandang dari masjid di samping rumahnya. Dan ibu-ibu yang
berkumpul di teras rumahnya mulai beranjak pulang ke rumah masing-masing.
***
Mendengar cerita sang ibu. Aminah
langsung tertunduk. Ia paham terhadap apa yang dipikirkan ibunya, mengapa
sang ibu menolak pinangan itu? Bagi Hosriyani, Aminah seolah
diibaratkan benih yang tertanam di benak ibunya. Ia tak mau kalau benih itu
akan tidak tumbuh lagi sebab pinangan. Dan kini benih tersebut telah ia
sematkan kembali dalam diri Aminah dan adik-adiknya. Bahkan, Aminah masih ingat
kata sang ibu, bila kelak dia sudah lulus sekolah Tsanawiyah, ia
akan dimasukkan ke pondok pesantren salaf di negeri yang jauh. Aminah
hanya mengiyakan saja menanggapi keinginan ibunya itu. Meski di
lain sisi di benak Aminah, ia tak bisa memungkiri, bahwa
sang ibu hanyalah berangan-angan, dan angan-angan itu bisa terwujud bisa pula
gagal.
Aminah sempat melongok. Lalu
kembali tertunduk. Airmatanya hampir saja membuncah. Ada yang ia sembunyikan.
Namun ia tak sanggup untuk mengutarakan. Takut! Sungguh
merasa benar-benar takut bila rasa cinta di hatinya hanya akan
melukai perasaan ibunya. Dan sebenarnya, ia juga menyayangkan, kenapa sang ibu
tidak menerima pinangan Jamaluddin?
Ia tidak bisa berbuat banyak dengan
keputusan ibunya. Ia tak tahu, dengan cara apa agar sang ibu bisa
memahami keberadaannya. Tanpa harus ia ungkap semua yang telah terjadi
kepada dirinya? Entahlah, tiba-tiba ia merasa terpukul, ketika sang ibu dengan
bersikukuh pada keputusan menolak pinangan Jamaluddin. Sementara
dibalik hatinya, ada kekesalan yang semakin hari menambah hidupnya semakin
terkekang. Bimbang, juga merasa ketakutan.
***
Orang-orang di kampung gaduh.
Tegang! Mendengar berita, dari mulut ke mulut yang tak jelas itu.
“Aminah hamil.”
“Aminah hamil?”
“Ya. Aminah hamil.”
“Manamungkin?”
Orang lalu lalang di jalan tak
beraspal di samping rumah Hosriyani. Debu-debu
mengepul tebal memenuhi dinding-dinding rumahnya. Melongok. Melihat
ke dalam rumahnya. Tapi, di rumah tua yang berdebu itu. Tak terlihat sesosok
pun yang muncul. Bahkan jemuran yang biasanya sering bergelantungan di beranda
rumahnya, kini tak ada. Sepi. Sunyi. Kecuali hanya lamat-lamat suara isak
tangis yang terdengar dari rumah tua itu.
“Siapa yang menghamili?”
“Masih belum diketahui.”
“Hufs, itu hanya
fitnah. Jangan dipanjang-panjangkan!”
“Tapi perut Aminah sudah terlihat
buncit. Makanya dia tidak berani keluar rumah lagi.”
Hening. Tak ada yang berkomentar
lagi!
Dari dalam
rumah Hosriyani, suara isak tangis itu masih terdengar samar-samar.
Hampir saja tidak terdengar! Setiap kali orang melintas di samping
rumah itu, dia merasa terpanggil ingin masuk ke dalamnya. Untuk
sekedar tahu, benar tidaknya kalau tangis itu adalah tangis sedih Aminah?
Namun, ah tidak mungkin. Itu hanya akan menambah kegaduhan di kampung
ini.
Pajagungan riuh dengan beredarnya
kabar itu. Mungkin karena ini kali pertama kabar tak sedap yang cukup
mencenangkan di kepala mereka. Dan bila kabar itu benar-benar nyata terjadi
pada Aminah, tentu citra baik Pajagungan, lebih-lebih Pengasuh pesantren di
kampung itu, Haji Saroji tentunya, akan merasa sangat dipermalukan. Dan,
Haji Saroji sebagai orang yang dinomor satukan dan menjadi panutan masyarakat
di kampung tersebut, tentu dia merasa punya tanggunjawab atas kejadian
yang menimpa muridnya.
***
Setelah selintingan tentang
kehamilan Aminah yang tak tentu benar itu sampai pada
Hosriyani, seketika ia tersipu. Air matanya mengalir bercucuran ke
pipinya. Tak seberapa lama dari sayup suara tangis Aminah. Hosriyani lalau
mendekatinya. Bersitatap. Aminah merunduk. Kemudian ada seseorang
yang datang mengetuk
pintu. Ia tersentak, sama-sama melongok, melihat
seseorang yang datang ke rumahnya.
Haji Saroji. Ya, dia datang lagi ke
rumah Hosriyani. Kini dia datang bukan lagi seperti saat hendak meminang Aminah
untuk dinikahkan dengan Jamaluddin. Melainkan datang layaknya hendak
mengadili muridnya yang telah berbuat kesalahan.
“Bagaimana ini bisa terjadi?”
Tanyanya kemudian. Wajahnya sedikit garang.
Hosriyani diam. Dari dalam kamar
suara isak anaknya mulai sedikit terdengar.
“Benar kabar itu terjadi
pada anakmu?”
“Benar, Pak Kiai!”
Hening. Keduanya diam
tertunduk sembari menelan ludah dua kali.
“Dengan siapa? Kau sudah
tanya Aminah?” Lanjutnya.
“Sudah, Pak Kiai.”
“Siapa?”
“Anak kepala desa itu.”
“Jamaluddin?”
“Benar, Pak Kiai.”
Sontak, Haji Saronji tersentak.
Sesekali menggelengkan kepalanya kerkali-kali.
“Ini harus segera dinikahkan!”
Lanjutnya.
Ia kembali menelan ludah.
Sementara lamat-lamat tangis Aminah semakin lama semakin jelas terdengar.
Dalam benaknya, ingin sekali memberontak atas ucapan Haji Saroji. Bahkan
ia ingin sekali menampar dan memukul tubuh Jamaluddin sampai dia
merajuk kesakitan. Sebagaimana anaknya yang kini sedang menangis
dipermalukan.
Namun, niatnya itu hanya menjadi
sia-sia. Setelah ia tahu dari pengakuan anaknya, kalau dia sudah
saling menyukai semenjak mereka bertemu di sekolah dulu. Dan ia hanya
bisa diam. Meredam amarah yang semakin merajuk dalam hatinya. Dan entahlah
kini seberapa kuat dan gigihnya seorang Hosriyani akan tetap menolak pinangan
Haji Saroji agar putrinya itu segera dinikahkan dengan Jamaluddin?

0 comments:
Post a Comment