Parkir ATM

Parkir merupakan suatu tempat atau lokasi yang biasanya dijadikan tempat menaruh kendaraan. Parkir ada yang bersifat resmi seperti bangunan yang memang disedian untuk parkir biasanya terdapat di mall, di pasar, di kampus, dll, ada pula parkir tidak resmi atau liar, biasanya kita temukan di pinggiran jalan raya, atau disembarang tempat yang bukan khusus untuk parkir.
Bagaimanapun tempat parkir adalah salah satu yang penting, utamanya bagi pemilik kendaraan. Hal ini guna menjaga keamanan kendaraan, baik dari orang yang tidak bertanggung jawab atau maling, maupun dari terik matahari dan hujan yang dapat menjadikan warna kendaraan pudar, dan sebagainya.
Berbicara mengenai parkir, kira-kira pernahkan kalian merasa jengkel atau setidaknya merasa terganggu dengan parkir liar yang dapat mengganggu perjalanan anda karena macet? Atau pernahkah kalian mendapati tukang parkir yang berjaga di salah satu ATM? Kalau di pedesaan, mungkin saja hal ini tidak akan kita temukan. Tetapi, untuk di kota-kota besar, bisa saja akan kalian jumpai. Hal ini bisa terjadi, mungkin memang dengan suatu alasan tertentu, tetapi, setidaknya saya hanya berbagi kisah saja, tanpa ada maksud dan tujuan apapun.
Alkisah, di sebuah terminal di daerah Gamping Yogyakarta, suatu malam saya mengantar seseorang pergi belanja di sebuah toko. Tempat toko tersebut posisinya terletak agak masuk ke dalam pasar. Sebelum masuk ke pasar, di samping pintu gerbang terdapat toko yang disampingnya terdapat ATM BNI dan BRI.
Ketika itu saya memilih tidak ikut masuk belanja ke toko. Saya menunggu di luar, di sisi pintu gerbang. Sambil menunggu orang yang tengah berbelanja itu, saya iseng-iseng melempar pandang ke sekitar, memerhatikan apa saja yang ada di sekeliling saya. Ketika pandangan saya berhenti pada sebuah bangunan ATM yang tanpak sepi itu, saya pun timbul pikiran untuk iseng-iseng sekedar mengecek saldo ATM. Saya agak lupa persisnya kenapa saat itu benak saya bergerak untuk ke ATM, apakah ada honor tulisan yang belum cair, atau hanya sekedar cek isi ATM, saya lupa.
Saya pun menyalakan sepeda motor dan menjalankan beberapa meter ke arah AMT. Dengan santai saya memarkir motor tepat di depan ATM, lantas masuk ke dalam ATM BRI. Di sana perlahan saya memasukkan card ATM sambil lalu doa. Kira-kira doanya memohon agar saldo ATM saya bertambah. Saya memencet angka pin dan menekan tombol bacaan cek saldo. Walhasil, saya belum merasa senang saat itu, karena saldo di ATM tersebut belum juga ada angka nominal yang dapat saya ambil untuk diuangkan. Lantas saya tutup ATM, dan keluar.
Di luar tepatnya di depan ATM dimana motor saya di parkir, ketika saya hendak menyalakan motor, tiba-tiba ada seorang lelaki tidak terlalu tua mendekati saya dan meminta saya uang parkir. Saya sedikit tertegun, dan masa heran.
Loh, ATM ini juga diparkir to, Pak?” saya tentu agak heran.
“Iya, mas, kan ini masih satu lokasi dengan toko.” Jawab lelaki itu, yang dari tadi berdiri di sebelah pojok barat toko.
Saya terdiam sejenak, agak sedikit jengkel saat itu, sebab lelaki tersebut sedari tadi tidak menampakkan tanda-tanda kalau dia adalah tukang parkir, duduknya pun jauh sekali dari ATM. Terlebih, sebenarnya saat itu uang saya hanya tinggal 2000.
“Kalau memang diparkir, mana karcisnya, Pak?” kata saya spontan seolah tidak saya rencanakan melontarkan ucapan tersebut. Sebenanrnya saya hanya ingin tahu, dia benar-benar petugas parkir atau bukan.
Lelaki itu agak sedikit gugup dan kebingungan. Lantas merogoh kantong bajunya.
“Ini.” Kata lelaki itu mengeluarkan bundelan karcis.
“Berapa?” tanya saya sambil mengambil uang 2000, dan memberikannya. Saya pikir, andai saja saya langsung membayar tanpa menanyakan tarif parkir dan karcis, bisa saja dia tidak memberikan karcis tersebut pada saya.
Saya pergi ke tempat semula, menunggu teman saya yang sedang berbelanja. Dalam pikiran saya, sungguh saya merasa tidak nyaman dengan kelakuan saya yang baru saja saya lakukan. Saya merasa kasihan sekali kepada lelaki tukang parkir tadi. Saya pikir, seharusnya saya tidak sampai menanyakan karcis segala, tinggal memberikan uang 2000 tersebut.
 Beberapa hari berikutnya, saya kembali ke pasar tersebut dengan keperluan lain. Tiba-tiba saya teringat peristiwa bersama tukang parkir itu. Pada saat itu, karena orang-orang tanpak agak ramai, saya perhatikan, barangkali saja ada orang yang masuk ke ATM. Tidak seberapa lama, ternyata benar-benar ada. Saya pun memerhatikannya, apakah dia akan dimintai uang parkir oleh tukang parkir tersebut? Ah, ternyata, setelah orang itu keluar dari ATM, si tukang parkir pun diam saja, tidak mendekati dan tidak meminta uang parkir ATM kepada seseorang yang baru saja keluar dari dalam ATM. @Jogja2014


0 comments: