Tulisan ini menceritakan tentang kunci. Mengenai
kunci, tentu setiap orang telah mengetahuinya. Betapa kecil dan mungilnya
sebuah kunci, ia memilik peran besar bagi kehidupan manusia. Namun demikian,
terkadang sebagian orang tidak menyadari bahwa kunci adalah salah satu benda
yang sangat penting dan berharga. Ia memiliki kegunaan cukup besar, khususnya,
dalam tulisan ini yang berkaitan dengan dunia otomotif: sepeda motor atau
mobil. Sebenarnya bukan itu saja yang dapat saya ceritakan soal kunci. Ada
banyak kisah kunci lain yang dapat saya urai. Tetapi, pada tulisan ini saya
kisahkan cerita kunci motor yang pernah saya alami. Baiklah, simaklah cerita di
bawah ini.
Pada pertengahan tahun 2012, seorang perempuan
kerap meminta saya untuk mengantarnya pulang kampung, atau menjemputnya.
Tatkala itu kebetulan saya belum memiliki kesibukan, sehingga saya sering
bersedia mengantar atau menjemputnya. Biasanya, kalau saya mengantar perempuan
itu pulang ke rumahnya di daerah Jawa Tengah, ia meminta saya untuk diantar
sampai di tempat pemberhentian bus saja. Ia menyebutnya, angkruk.
Pada waktu itu, saya masih belum punya sepeda
motor. Jadi, ketika diminta untuk mengantarnya, saya menggunakan motor
perempuan itu. Apabila saya mengantarnya pulang, terkadang saya balik ke Jogja
dengan membawa motornya. Akan tetapi, saya lebih sering pulang dengan naik bus,
turun di terminal Giwangan, lantas naik Trans Jogja untuk pulang ke kos.
Memang, saat itu saya tengah senang-senangnya jalan-jalan, hitung-hitung sambil
cari suasana lain dari kos dan kampus, terlebih mencari inspirasi untuk menulis.
Pernah juga beberapa kali, ketika sepeda motor
itu dibawa perempuan ke rumahnya, saya menjemputnya dengan ikut bus dari
terminal Giwangan sampai Jawa Tengah. Dari situ saya baru naik motor bedua
balik ke Jogja.
Suatu ketika, ia meminta antar kepada saya pada
waktu sore. Sebelumnya dia memang bilang, kalau nantinya, saya balik ke Jogja
dengan naik bus sendiri. Sebab, disamping waktu itu lampu sepeda motornya
memang agak konslet tidak terlalu terang untuk dipakai malam hari, sepeda
motornya juga dibutuhkan selama ia di rumahnya. Saya pun mengiyakan. Akan
tetapi, saat itu saya bilang terus terang, kalau saya sedang tidak pegang uang
sama sekali untuk ongkos bus. Dia pun menjawabnya, “gampang, biar saya yang
bayarin” katanya.
Sore itu, saya berangkat mengantarnya. Kalau
tidak salah, kami berangkat dari Jogja sekitar pukul 15.00 atau 15.30-an. Dari
jogja ke daerah rumahnya perjelanan sekitar satu jam setegah, hingga dua jam.
Sesampainya di sana, sekitar jam 17-an. Kami berhenti di sebuah angkruk tempat
pemberhentian bus. Sesuai rencana, saya mengantar dia sampai di angruk, untuk
kemudian saya pulang dengan bus, dan dia akan melanjutkan pulang ke rumahnya
yang tidak jauh dari tempat itu.
Saya duduk disebuah angkruk bersama perempuan itu
sambil lalu menunggu bus datang. Kami tunggu beberapa menit, bus juga belum
menampakkan tanta-tanda untuk datang.
“Jam segini, biasanya sih bus
jurusan Jogja memang agak sulit,” kata perempuan itu. Lantas saya menatapnya.
“Iya.., sudahlah, kamu sana pulang duluan. Nanti
ditunggu-tunggu orangtuanya dikira kenapa-napa di jalan.” Jawab saya karena ia
sudah bilang kepada orangtuanya kalau hari itu akan pulang.
“Nggak, nunggu kamu dapat
bus dulu, kasian nanti kalau nggak dapat bus.” Timpalnya.
“Nggak apa-apa, santai aja,
nanti juga pasti ada, paling sehabis magrib.” Ujar saya.
Perempuan itu memang tampak sedikit gelisah,
melongok ke seberang jalan, melihat penuh harap agar bus segera muncul,
sesekali mengotak-atik hp-nya, mungkin sudah di sms orangtuanya, ditanya, sudah
sampai dimana?
“Sana, pulang saja kamu, saya nggak apa-apa,
santai. Nanti pasti ada bus kok.” Saya meyakinkan.
“Nggak, nunggu kamu dapat
bus dulu.” Ujarnya masih sama. Gelisah.
Adzan maghrib berkumandang beberapa menit lalu.
Bus jurusan Jogja belum juga ada tanda-tanda akan segera datang. Saya
perhatikan perempuan itu semakin gelisah, sedih dan bimbang. Saya memintanya
lagi, agar ia pulang sebelum orangtuanya menyusul ke tempat itu. Dia pun juga
tetap saja tidak mau. Ia tetap mau menunggu saya dapat bus.
Saya duduk dengan penuh harap. Semoga saja masih
ada satu sisa bus jurusan Jogja yang masih belum lewat, pikir saya. Sudah
berkali-kali memang bus melajau dari arah utara ke selatan, berkali-kali pula
saya berdiri, tetapi, bus itu tidak satu pun berhenti karena memang bukan
jadwal dan jurusannya ke jogja.
Saya mulai gelisah juga, ia meminta saya agar
membawa pulang motornya saja balik ke Jogja. Saya menolak, karena dia bilang ke
orangtuanya pulang dengan membawa motor. Selain itu, saya juga sedikit khawatir
dan takut untuk naik motor sendirian ke Jogja--kalau sudah malam begitu, sebab
sepanjang jalan ada beberapa lokasi yang sepi dan ngeri, apalagi lampu motornya
redup. Kami pun sama-sama berada pada puncak kebingungan. Malam semakin
beranjak menua. Adzan isya’ baru saja kumandang. Bus juga belum datang.
Di saat-saat kami diam bergeming, memikirkan
jalan keluarnya, tiba-tiba dari arah utara sinar lampu bus membentur kami.
Perempuan itu spontan berdiri.
“Sepertinya ini bus jurusan Jogja.” Ujarnya. Saya
pun diam saja tidak begitu yakin, karena sudah berkali-kali perempuan itu
mengatakan hal yang sama setiap kali ada bus mau lewat, tetapi, berkali-kali
pula salah menebak.
“Benar!” kata perempuan itu, menoleh ke arah
saya, senang! Seketika tumbuh rasa syukur dalam benak saya. Dengan sigap dan
tergesa-gesa saya langsung naik ke dalam bus, mengucapkan selamat tinggal
kepada perempuan itu, dan ia pun mengatakan agar saya hati-hati di jalan.
Bus melaju dengan begitu kencang. Saya masih
berdiri dan memegang helm mencari-cari tempat duduk di dalam bus yang penuh
dengan para penumpang. Satu-dua menit berlalu, sebelum saya mendapatkan tempat
duduk, hp di kantong celana berdering keras dan kencang. Saya langsung
merogohnya. Saya melihat layar telpon, nama perempuan itu yang menelponnya.
Saya angkat. Terdengar suara perempuan itu terbata-bata penuh kegetiran
menanyakan kunci motornya. Sontak, saya terkaget, saya merogoh semua kantong baju
dan celana, subhanallah…, saya benar-benar kebingungan saat
menemukan kunci motor tersebut di kantong celana. Rupanya, sejak kami sampai di
angkruk, memarkir motor dengan kunci stang tadi, kunci tersebut masih ada pada
saya. Saya lupa memberikannya karena tergesa-gesa naik ke atas bus.
Dalam keadaan bingung dan bus yang melaju begitu
kencnag, saya langsung berjingkat cepat ke dekat pintu dan menghampiri kernet
bus.
“Pak, Pak, berhenti di sini pak…!!” saya
gelagapan.
Bapak kernet itu agak heran menatap saya, mungkin
karena tadi saya bilang turun di terminal Giwangan Jogja. Sebelum ia tanya
panjang lebar kepada saya, saya pun langsung menjelaskan, bahwa kunci motor
perempuan itu kebawa saya--agar laju bus tidak melaju semakin jauh.
“Kunci motor punya teman saya kebawa, Pak.”
jelas saya sambil memperlihatkan kunci motor tersebut. Bapak kernet pun
langsung memberikan aba-aba agar sopir memberhentikan busnya.
Bus berhenti, saya pun meloncat turun. Terpaksa,
karena pada waktu itu angkutan sudah tidak ada, dan perempuan itu juga tidak
bisa berbuat apa-apa tanpa adanya kunci motor yang saya pegang, saya pun
akhirnya berjalan kaki sekitara satu kilo meter ke tempat perempuan tadi.
Entahlah, saya tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan saya saat itu,
campur aduk; sedih, kesal, jengkel, bahkan juga merasa lucu.
Sesampainya di angkruk, dengan napas tersengal
dan tubuh sedikit basah, saya memberikan kunci motor itu kepadanya. Dan saya
memintanya agar cepat pulang, sebelum ditanya dan dimarahin orangtuanya.
“Kamu pulang saja, sebelum orangtuamu marah.”
Ujar saya padanya.
“Saya nggak apa-apa disini,
nanti pasti ada bus lagi.” Lanjut saya, meskipun sebenarnya saya tidak tahu
apakah akan ada bus lagi yang jurusan Jogja? sebab sebagaimana kata perempuan
itu, kalau sudah malam jadwal bus ke Jogja sudah tidak ada.
“Tidak, sebaiknya kita balik saja ke Jogja.” Kata
perempuan itu. Saya mematung.
“Jangan! Gimana dengan
orangtuamu? Dia akan mengkhawatirkanmu dan akan menunggu kamu. Nggak apa-apa
kok, saya pasti bisa pulang ke Jogja malam ini.” Kata saya, pura-pura tenang.
“Kita balik ke Jogja sekarang, naik motor.” Kata
perempuan itu mengembalikan kunci itu pada saya, dan menyuruh mengambil
motornya yang masih terparkir di pinggir jalan.
Saya terdiam dan membatin, tidak segera mengambil
kunci motor itu. Dalam hati, tetap menginginkan perempuan itu pulang dengan
membawa sepeda motornya, dan membiarkan saya menunggu bus jurusan Jogja datang
lagi lewat jalan ini.
“Ini, ayo kita
balik lagi ke Jogja!” Kata perempuan itu lagi, sebelum akhirnya, dengan
perasaan bimbang, saya meraih kunci itu, dan menyalakan motor tersebut. #Jogja2012

0 comments:
Post a Comment