(Dimuat di Koran Kedaulatan Rakyat, 20 Januari 2013)
Hampir setiap malam
Nasiba mengeluh ingin pulang. Meski saat ditanya ia tak tahu hendak pulang ke
mana? Rahniya selalu mencegah niatnya. Membujuknya agar selalu bersabar dalam
menjalani cobaan ini.
“Suatu saat nanti
kamu pasti menemukan tempat berpulang yang lebih nyaman dari rumah ini, Ba.”
Kata Rahniya, pembantunya itu.
“Tapi aku sudah tidak
kuat menanggung sakit ini!” Nasiba merajuk. Percik airmata mulai mengalir ke
pipinya. Keduanya sama-sama bergeming.
Malam larut. Rembulan
bersinar redup. Seredup raut Nasiba yang tengah duduk meringkuk. Terlintas
dalam hatinya untuk kabur. Tetapi ah, ia juga tak tahu hendak pulang ke mana?
Rumah untuk berteduh tak ada. Kedua orang tua pun juga telah meninggal dunia
semenjak ia SD. Entah, apa sebenarnya penyebab dari meninggalnya kedua orang
tuanya itu? Nasiba lebih senang mempercayainya—kalau kedua orang tuanya mati
karena takdir dari Tuhan. Bukan karena sengaja dibunuh sebab dililit utang dan
tak bisa mengembalikannya kepada rentenir—seperti yang diceritakan beberapa lelaki
yang setiap malam mengunjunginya.
“Tidurlah dulu,
Ba...!” ucap Rahniya pelan membuyarkan lamunannya. Sepelan suara desau angin
yang masuk lewat celah jendela.
Nasiba tak segera
menjawab. Mematung. Ia pun paham dengan maksud Rahniya menyuruhnya agar segera
tidur. Namun di hatinya selalu enggan. Sebab malam baginya adalah kabut
penderitaan, yang akan menjatuhkan gerimis airmata kesedihan.
Ia bergeming. Setelah
beberapa menit berlalu, baru berdiri. Melangkah memasuki kamar suaminya.
Di dalam kamar, seorang
lelaki telah duduk, melempar senyum saat melihat Nasiba membukakan pintu.
“Kemarilah cantik..., mendekatlah padaku!” desis lelaki itu. Nasiba kembali
bergeming. Ia tak segera mendekatinya. “Jangan takut, aku tidak akan
memperlakukanmu seperti laki-laki lain di malam-malam yang telah berlalu,”
rayunya. Namun ungkapan itu sudah tidak asing lagi di telinga Nasiba. Setiap
malam lelaki lain juga kerap mengeluarkan suara demikian dari mulut busuknya.
Hening.
Dengan berat Nasiba
melangkah. Perlahan mendekati lelaki itu. Dalam hatinya tidak percaya akan ada
lelaki yang masuk kamar suaminya, dan tidak melakukan sesuatu pada dirinya. Ah,
itu sangatlah mustahil!
“Duduklah di
sampingku, cantik!” lenguh lelaki itu lembut. Lalu ia meraih tangan Nasiba.
Kemudian menggamiti pipinya. “Malam ini kamu sungguh benar-benar cantik,”
desisnya merekatkan bibirnya ditelinga Nasiba. Lalu menciuminya. Menyentuh
kujur tubuhnya.
Nasiba diam. Dalam
hatinya ingin sekali memberontak. Namun niat itu hanya menjadi kesia-siaan.
Bila tetap ia lakukan, tangan suaminya tak akan segan menyakiti tubuhnya.
Menampar habis pipinya atau menjambak rambutnya.
Sebelum fajar telah
benar-benar memerah, tanpa harus disuruh lelaki itu akan berhenti menggauli
tubuh Nasiba. Lelaki itu akan cepat-cepat membuka pintu dan menutupnya dari
luar. Sementara Nasiba dibiarkan terkulai lemas tanpa selembar kainpun yang
menutupi tubuhnya.
Di luar kamar,
Tabrani, suami Nasiba sudah pasti duduk dengan ditemani sebatang rokok dan
secangkir kopi hangat menunggu lelaki itu keluar. Kemudian ungkapan dan
pujian-pujian kepuasan akan keluar dari mulut busuk lelaki itu. Sebelum
akhirnya ia pergi meninggalkan beberapa lembar uang di atas meja Tabrani.
“Dilain waktu aku
pasti kembali lagi.” Ungkap lelaki tersebut.
***
Nasiba hamil. Tetapi
pekerjaannya setiap malam melayani tamu suaminya tak pernah diberhentikan. Dia
tak peduli keadaan istrinya. Lembaran uang terasa lebih penting baginya
daripada helai pakaan istrinya yang selalu dikuliti oleh lelaki lain. Toh kalau
sudah menggenggam banyak uang tinggal pilih mau menikmati perempuan macam apa
tetap ia dapatkan. Bagitulah kebejatan hati Tabrani terhadap istrinya.
Suatu ketika Nasiba
pernah memohon kepada Tabrani agar ia tidak menerima tamu lagi. Tetapi suaminya
menjawab dengan tangan kekar yang mendarat tepat di kepalanya. Ia pun sempat
terhuyung jatuh terbentur meja. Saat itu terbersit harapan dalam hatinya agar
kandungannya gugur. Tetapi sayang, setelah sekian hari perut buncitnya bukan
semakin mengempis, malah semakin membundar, besar. Pernah beberapa kali ia juga
berusaha kabur atas bantuan Rahniya. Namun anjing penjaga rumah itu buru-buru
mengejarnya. Hingga akhirnya Tabrani tahu dan berhasil mencegah niat istrinya.
Dan saat itu pulalah tanpa bertanya ini-itu, Tabrani memberinya hadiah tamparan
dan jambakan di kepalanya.
Malam ia lewati
seperti malam-malam sebelumnya. Setiap ada tamu yang datang ke rumah itu, yang
berwajib menjamu adalah Nasiba. Sementara Tabrani hanya tinggal duduk ongkang
kaki dengan sebatang rokok dan kopi hangat yang disediakan Rahniya,
pembantunya. Dan setelah malam berlalu berganti pagi, lembaran-lembaran uang
sudah pasti tercecer di atas meja Tabrani. Seperti sediakala, Nasiba dengan
badan lemas dan rambut berantakan harus menanggung sakit yang teramat perih. Tak
seorang pun mengetahui hal itu kecuali Rahniya.
“Bersabarlah, Ba!”
suara iba Rahniya. Hanya dia satu-satunya orang yang selalu menemani
penderitaannya.
Sembilan bulan
berlalu. Nasiba telah melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik. Bayi itu
ia beri nama Rembulan. Pikirnya, dengan nama itu kelak hidup anaknya akan
seperti rembulan: cerah secerah sinarnya dimalam hari. Tidak seperti nasib
Nasiba yang selalu diselimuti kabut tebal ketika malam datang. Dan kabut-kabut
hitam itu selalu membungkusinya dengan penderitaan.
Namun demikian, di
sisi lain Nasiba juga sering merasa bimbang semenjak lahirnya Rembulan. Ia tak
tahu apa yang harus ia jelaskan kelak kalau Rembulan sudah dewasa, dan bertanya
siapa ayahnya? Entahlah, benih itu adalah titisan dari Tabrani yang tumbuh
menjadi jabang bayi? Atau dari lelaki lain yang setiap malam kerap datang
bergonti-ganti meninggalkan benih di dalam perut Nasiba?
Ia lagi-lagi
mematung. Melihat sosok bayi yang ada diperaduannya. Kadang ia merasa kasihan.
Bahkan merasa jijik memegang sosok bayi itu ketika ia ingat bagaimana saat
malam larut dan ia digauli oleh berpuluh-puluh lelaki yang meninggalkan benih
yang kini menyatuh dalam sosok bayi itu. Namun, kebencian itu segera ia tepis
jauh-jauh. Walau bagaimana pun, Rembulan adalah anaknya sediri. Keluar dari
rahimnya sendiri. Meski belum jelas siapa ayah kandung Rembulan sebenarnya.
Suatu malam saat
Rembulan tengah tertidur ditemani Rahniya. Seperti halnya malam-malam
sebelumnya, seorang lelaki telah menunggunya di kamar Tabrani. Sedang suaminya
itu duduk santai dengan sebatang rokok dan secangkir kopi hangat dihadapannya.
Kepulan asap rokok ia keluarkan dari muncong mulutnya. Sehingga terlihat
seperti kabut-kabut malam yang selalu Nasiba ibaratkan dengan kabut penderitaan
yang menyelimuti dirinya.
Malam itu, barangkali
adalah malam pertama dimana lelaki yang datang dan menunggunya di dalam kamar
suaminya adalah lelaki termuda diantara sekian lelaki yang kerap menemuinya.
Lelaki itu terlihat sangat tampan. Mengenakan jaket kulit hitam. Tubuhnya
terlihat sangat kekar. Rambutnya dicukur pendek hanya beberapa senti.
“Mendekatlah padaku!”
lenguh lelaki itu. Raut wajahnya terlihat canggung. Perlahan, dengan perasaan
ganjil Nasiba mendekatinya. Duduk tepat disamping lelaki itu.
Braakkkk...!!!
Sontak, Nasiba
tersentak. Dari arah berlawanan ada beberapa orang yang sedang menggebrak
pintu. Ia cepat melonjak. Tubuhnya gemetar. Detak jantungnya bergerak sangat
kencang.
“Jangan bergerak!”
hardik seorang lelaki dengan sebuah pistol. Ia semakin gemetar. Diliriknya
seorang lelaki yang baru saja menunggunya di dalam kamar, pun telah berdiri
dengan sebuah pistol.
“Bawa pelacur ini!”
perintah seorang komandan. Nasiba ingin memberontak dan ingin memberi
penjelasan. Tetapi orang-orang gagah yang berpakaain coklat itu mengancamnya
dengan pistol.
Ia pun diseret keluar
kamar. Dibawanya ke sebuah mobil. Di dalam mobil terdengar jerit tangis
Rembulan yang tengah di gendong oleh Rahniya. Sementara Tabrani berhasil kabur
lewat pintu belakang setelah mencium ada segerombolan polisi saat hendak
menggebrak pintu rumahnya.
“Bawa pelucur ini ke
kantor!” Perintah seorang komandan lantang. Para lelaki gagah yang mendampingi
dua perempuan itu tersenyum. Mereka merasa puas telah berhasil menangkap
kawanan pelacur yang dikabarkan salah seorang masyarakat sekitar.
Lelaki-lelaki
berpakaian coklat itu kembali tersenyum. Melihat raut Nasiba yang masih segar.
Tubuhnya terlihat kenyal. Sementara Nasiba terisak. Bagitu pun Rahniya,
pembantunya. Ia juga meneteskan airmata melihat sosok Rembulan yang tengah
menjerit-jerit ketakutan. Sosok bayi tak bedosa itu kini juga menjadi korban
dari kebejatan Tabrani dan para lelaki hidung belang lainnya.
Entahlah, apa yang
kemudian akan terjadi? Yang tampak dalam pikiran Nasiba hanyalah sebuah
hukuman. Namun, barangkali dengan hukuman itu hidup Nasiba akan lebih tenang
daripada hidup bersama Tabrani yang setiap malam diperjualbelikan. Ya,
diperjualbelikan sebagai pengganti utang kedua orangtuanya yang tak mampu ia
lunasi.
Kini, mobil itu telah
melaju kencang. Membawa Nasiba, Rahniya dan Rembulan. Setelah mereka sampai,
Rahniya berbisik, “Barangkali, rumah inilah tempat berpulang paling nyaman,
daripada rumah Tabrani, suamimu yang bejat itu!” Nasiba hanya mengangguk pelan.
Lalu diliriknya Rembulan yang tak henti menangis karena ketakutan.
Yogyakarta, Januari 2013
