Oleh: Marsus Banjarbarat
Beberapa pekan lalu, Sahab pergi ke sebuah
pemakaman dimana tampat ibunya dimakamkan. Ia datang untuk berziarah dan
mendoakan sang ibu, setelah selama beberapa bulan akhir-akhir ini ia tak pernah
ke sana, karena terlalu sibuk semenjak ia diangkat menjadi seorang guru PNS di
sebuah sekolah di desanya. Namun, tanpa ia duga, sesampainya di pemakaman
tersebut, kuburan ibunya telah lenyap tak ada!
Awalnya, sebelum ia menjadi seorang guru, setiap
hari kamis sore atau malam jumat, ia tak pernah lengah mendatangi kuburan
ibunya untuk membaca surat yasin atau tahlil yang sudah ia hafal. Kebiasaan itu
ia lakukan semenjak sang ibu meninggal dunia lima belas tahun silam karena
kecelakaan. Sebenarnya, datang ke kuburan bukanlah jalan satu-satunya bagi
Sahab untuk mendoakan sang ibu. Setiap kali ia selesai solat lima waktu, pun
juga tak lupa mengangkat kudua tangannya melantunkan doa-doa. Tetapi baginya,
datang langsung ke kuburan merupakan keutamaan sebab ia pikir, bisa bertemu
langsung dengan orang tuanya.
Ia terheran-heran. Sepasang matanya melotot
tajam. Kepalanya terasa tersayat-sayat luka. Ia tak percaya kalau kuburan
ibunya sudah rata dengan tanah. Ah, bukan sekedar tanah, tetapi menjadi jalan
hitam beraspal yang dijadikan jalan utama menuju Pasar dan jalan ke rumah
Pak Kalebun.
Hilangnya kuburan sang ibu bukan hanya menjadi
kisah sedih yang sangat tragis bagi dirinya. Tentunya, ia tak mau tinggal diam
membiarkan kejadian tersebut makin begejolak dalam hatinya. Ia akan mencari,
siapa yang telah berani menggusur kuburan ibunya tanpa sepengetahuan dirinya?
Ia melangkah mendekati bekas kuburan ibunya.
Sesekali jongkok tepat dipinggir jalan beraspal itu. Mulutnya mulai komat-kamit
dengan lamat-lamat doa. Disusul dengan tetes airmata yang semakin merajuk
dalam-dalam di hatinya. Di jalan itu, orang-orang berlalu-lalang dengan
kendaraan bermotor atau mobil mewah yang melintas tepat di atas kuburan ibunya.
Ia lalu mengerut. Wajahnya memerah.
Tak lama berselang, ia membalikkan badan.
Kejengkelan terus menggerogoti ruang hatinya yang panas. Setiap kali melihat
orang atau kendaraan yang melintas tepat di atas kuburan ibunya, ia terasa
hatinya terluka, tergilas oleh benda berat dan keras, dan bahkan rasa-rasanya
seketika terdengar jerit pilu ibunya menahan sakit yang tak terperihkan. Ia
semakin tak tega. Merasa jenkel bila melihat setiap orang lalu-lalang melintas
di atas kuburan itu.
Sebelum ia pulang meninggalkan pemakaman. Seorang
kakek sepuh, penjaga kuburan itu memberi tahu sedikit tentang penggusuran
beberapa kuburan yang ada di pemakaman itu, termasuk kuburan ibunya yang sudah
tiada.
“Sebenarnya saya juga kurang tahu pasti, dari
pihak mana yang melakukan penggusuran beberapa kuburan yang ada di pemakaman
ini.” Seru kakek yang sudah berambut putih itu.
“Saya kira sebelum penggusuran beberapa bulan
lalu, semua keluarga dari kerabatnya yang dimakamkan di sini sudah dimintai
izin.” Lanjutnya dengan suara putus-putus.
Dua bulan yang lalu, memang ada kabar tentang
pelebaran jalan menuju pasar dan rumah Pak Kalebun. Pasalnya, jalan setapak
menuju pasar yang teramat sempit itu tidak bisa dijadikan jalan trasportasi
untuk kelancaran kiriman barang-barang dari kota ke pasar tersebut. Selain itu,
karena ada banyak tamu-tamu pejabat yang hendak bersilaturrahmi ke rumah Pak
Kalebun dengan membawa mobil. Ia tiba-tiba bergeming teringat kabar itu.
“Apa ada yang kakek kenal dari orang-orang yang
ikut menggusur kuburan ini?” Tanyanya tak sabar.
“Yang saya lihat hanya Pak Kalebun,” dia diam
sejenak seraya berpikir.
“Ya hanya dia seorang. Itu pun tidak ikut campur
atas pekerjaan tersebut. Dia hanya berlagak sebagai penonton saat pembongkaran
kuburan.” Jelasnya lagi. Sahab lalu mengangguk. Selebihnya ia cepat melangkah
meninggalkan pemakaman ibunya yang sudah tak ada.
Pasti ini ulah Pak Kalebun, orang yang tak tahu
diuntung, pikirnya dalam perjalanan.
Ingatannya pulih kembali pada peristiwa lima
belas tahun silam tentang kematian ibunya. Ya, penyebab kematiannya memang
karenan kecelakaan, yang mungkin itu tiada kesengajaan. Tetapi walau bagaimana
pun, Pak Kalebun yang telah menabraknya—memang pantas untuk disalahkan.
Bagaimana tidak, saat itu, ketika Pak Kalebun baru belajar nyetir mobil
barunya, tiba-tiba menyerempet Sahrima, ibunya yang baru pulang dari lalabat,
sehingga ia terjerambab jatuh, dan kepalanya digilas dua kali oleh ban
mobilnya, yang mengakibatkan Sahrima meninggal dunia seketika.
Tetapi naifnya, ketika kejadian tragis itu
kemudian ia laporkan ke pihak kepolisian, sedikit pun tak membuat Pak Kalebun
menyesal atau ketakutan. Apalagi sedih. Dia malah mengumbar senyum ngece ketika
dibebaskan dari hukuman karena dia mampu menebus sekian juta jumlah uang yang
telah ditentukan di pengadilan.
Berawal dari peristiwa itu, dendam di hatinya
mulai tumbuh dan bersarang memenuhi komponin tubuhnya. Meski dendam itu sempat
teredam, lantaran Pak Kalebun memberi jalan bagi dirinya untuk menjadi guru
PNS, tapi kini dendam tersebut tumbuh kembali mengusik hatinya. Dan dendam itu
akan terus bergejolak tak bisa ia timang lagi menjadi kesabaran yang hanya ia
buat-buat.
Niat membalas sakit hatinya kepada Pak Kalebun
tak bisa ia urungkan. Meski sang istri membujuk rayu, memintanya supaya
digagalkan, karena ia merasa malu, ketika ia ingat, bahwa berkat jasa Pak
Kalebunlah Sahab, suaminya itu bisa menjadi guru PNS.
Tetapi, ia tak menghiraukan itu. Bila sebilah
celurit sudah terlanjur terselip rapi di punggungnya. Siapa pun tak akan bisa
mencegah niatnya. Kini nasib tak bisa lagi ditimang. Tak lama lagi sebilah
celurit akan segera melayang menebas leher Pak Kalebun.
Di pekerangan rumahnya, sebelum ia menginjak ke
rumah Pak Kalebun, kakinya ia hentakkan tiga kali. Mulutnya komat-kamit merapal
mantra. Kemudian Pak Kalebun keluar dari pintu rumah. Menyambutnya dengan
senyum congkak.
“Dengan tidak mengurangi rasa hormat. Saya harap,
Pak Kalebun membangun kembali kuburan ibu saya! Saya pikir ini kesalahan yang
sangat fatal yang harus Pak Kalebun tangung akibatnya. Bila tidak....?” Ia
menghentikan ucapannya. Sesekali ia keluarkan sebilah celurit dari punggungnya.
“Maksudmu apa, Hab?” Pak Kalebun mengelak.
“Kampret, cuih..!”
Ia meludah dan berdiri. Wajahnya yang sangar
dengan tubuh kekar membuat Pak Kalebun gelagapan. Tak lama kemudian ia raih
gagang celurit yang ada di punggungnya. Pak Kalebun semakin gemetar.
“Jahannam!” Ia keluarkan celurit itu dari sarung
celurit.
“Langkahi dulu mayatku, Hab!”
Sahab menoleh ke belakang, matanya nyalang,
tangannya terhenti bergerak saat mendengar suara Dulmannan.
Wajah Pak Kalebun terlihat dingin seketika.
Bahkan tersirat seulum senyum tipis di bibirnya. Dia merasa lebih tenang saat
Dulmannan, si blater yang menjadi ‘tangan kanannya’ itu datang tepat pada
waktunya.
Sahab diam tak berkutik. Namun hatinya terus
bergejolak bagai bara api yang terus memanas. Kali ini terpaksa ia harus
urungkan niatnya untuk menebas leher Pak Kalebun.
Ia melangkah gontai. Penuh kekesalan. Kau selamat
malam ini, tetapi maut tetap selalu menjemputmu setiap waktu, desisnya.
Ia letakkan sebilah celurit tepat di atas pintu rumahnya. Ingatannya terus
menjurus pada nasib sang ibu yang setiap saat terus diinjak-injak oleh orang
yang melintas di atas kuburannya.
Malam larut. Ia melirik ke atas licak terbuat
dari kayu. Istriya tergolek rapuh. Ia hanya memandangnya. Tak mungkin
menggaulinya saat ia dalam keadaan atirakat sebelum ia berhasil membalas nyawa
ibunya.
Ia melangkah pelan menuju pintu rumah. Membukanya
sedikit. Melempar pandang ke pematang. Sesekali pandangannya menjurus ke
pemakaman ibunya yang sudah raib. Seketika itu seolah muncul bayangan sang ibu
meronta-ronta, menjerit, seperti dulu saat ditabrak mobil Pak Kalebun, lalu
kepalanya dilindas oleh ban mobilnya.
Kemudian ia duduk merinkuk di samping bekas
kuburan ibunya. Sesekali melantunkan surat yasin dan tahlil. Melafalkan
doa-doa. Lalu menangis. Meratap. Meraung-raung saat seolah mendengar jerit
ibunya ketika ada kendaraan berlalu-lalang melintas di atas kuburan itu.
Malam semakin larut. Suasana semakin mencekam.
Ada segaris cahaya lampu taplok yang memantul di sela-sela pemakaman itu.
Kemudian ia berdiri. Sebelum akhirnya membalikkan badan menuju rumah Misdamat,
pamannya.
Di rumah pamannya, yang juga seorang blater, ia
ceritakan banyak hal perihal kuburan ibunya yang digusur, dan niatnya semalam
yang tertunda karena dicegah oleh si Dulmannan itu.
“Baiklah kalau begitu, Hab. Malam ini aku coba
temui Dulmannan.” Tanggapnya.
“Kau tunggu disini sampai aku kembali!”
Lanjutnya. Ia pergi meninggalkan Sahab sendiri di rumahnya.
Sahab duduk gelisah. Kesabarannya semakin tak
mampu dibendung. Ingin cepat-cepat membalaskan kematian ibunya kepada Pak
Kalebun. Hanya saja ia menunggu waktu yang tepat dari keputusan pamannya.
***
Di rumah Dulmannan, Misdamat duduk berhadapan.
Lalu mulailah berbincang.
“Dul, kuharap kamu mengerti persoalan
keponakanku!” Katanya. Dulmannan tak segera menjawab.
“Malam ini aku akan ke rumah Pak Kalebun,
pastinya kau mengerti niatku.” Lanjutnya.
“Pak Kalebun sebagai peminpin di desa ini, Mat.
Sebaiknya kau pikirkan lagi niatmu!”
“Aku tak peduli itu!”
“Kau berani berhadapan denganku, Mat!?” Sergahnya
mulai garang. Lalu ia pergi meninggalkan Misdamat.
Malam sepi semakin mencekam. Jalan setapak yang
gelap di samping rumah Dulmannan, ia lampaui dengan langkah tergesa-gesa.
Kesabarannya tak mampu dibendung untuk segera menginjak rumah Pak Kalebun.
Dengan ringkik suara hewan malam yang semakin
mencekam, dua orang bersaudara itu melangkah menuju rumah Pak Kalebun. Seiring
kepak sayap dua burung gagak yang berputar-putar. Lalu hinggap di atas bubungan
rumahnya. Mereka mengendap-ngendap. Sesekali melirik ke sekitar. Sebelum
akhirnya ia menginjak pekarangan rumahnya.
Rumah megah bagai istana itu sepi. Mungkin karena
malam sudah teramat larut. Sehingga tak terlihat bayang seorang pun yang bisa
dijadikan tanda-tanda kalau Pak Kalebun ada di rumahnya. Tetapi ia tetap tak
mengurungkan niat. Untuk membalas kematian ibunya beberapa tahun silam. Mereka
diam dibalik pohon siwalan. Mengedar pandang ke sekeliling rumah Pak Kalebun.
Kalau-kalau ada seseoran yang keluar atau datang ke rumahnya.
Tak lama berselang, dari arah kejauhan, segaris
sinar lampu mobil muncul begitu terang. Ya, mobil Pak Kalebun yang pernah menabrak
dan melindas kepala ibunya sampai ia mati. Seketika gejolak hatinya semakin tak
karuan. Bahkan tak ingin lagi menunda niatnya untuk menebas leher Pak Kalebun
yang baru turun dari mobil mewah itu.
“Sebentar, Hab. Nunggu waktu yang tepat.”
Cegah Misdamat menyambar lengan tangannya yang mulai gemetar.
Sahab tak mau menunda kesempatan itu lagi. Ia tak
mau kalau nanti pulang dengan tangan hampa membawa kekecewaan seperti malam
kemarin. Langkahnya tak bisa ia cegah saat melihat Pak Kalebun turun dari mobil
mewahnya. Ia langsung melangkah cepat bagai raksasa. Ditangannya secarik
celurit ia genggam erat sembari diayun-ayunkan. Siap ia layangkan ke tubuh Pak
Kalebun.
Saat Pak Kalebun melangkah memasuki beranda
rumahnya. Dari arah belakang perlahan Sahab diam-diam membuntutinya. Sembari
memanggil Pak Kalebun pelan. Dan setelah dia menoleh lurus pada tubuhnya. Ia
pun cepat-cepat mengangkat celurit tinggi-tinggi. Untuk kemudian ia jatuhkan
tepat di kepala Pak Kalebun.
“Jiancuk!”
Dulmannan datang dari arah belakang dengan
gelegar suara bagai halilintar. Dia mencegahnya. Namun ketika Dulmannan hendak
menyambar lengan tangan Sahab, tiba-tiba Misdamat datang dari belakang—lebih
dulu menyambar tangan Dulmannan. Dan, tibalah ujung celurit itu di kepala Pak
Kalebun.
Pak Kelebun jatuh tergeletak berlumuran darah.
Sementara Dulmannan dan Misdamat saling tatap-menatap dengan raut wajah garang.
Keduanya saling bertukar pandang. Hendak melanjutkan perkelahian. Sebelum
akhirnya Sahab terperenjat, bangun dari mimpi buruknya yang amat mengerikan.
Lantaran dendam yang kini terpendam telah bersemi kembali karena kuburan ibunya
dijadikan jalan hitam beraspal.
Yogyakarta, 06 Mei 2012
Keterangan:
Kalebun : Kepala Desa (Bahasa Madura)
Lalabat : Melayat (Bahasa Madura)
Atirakat :
Menahan hawa nafsu (agar memperoleh kekuatan/kekebalan).
Sumber: Koran Riau Pos, 16 Agustus 2012.
Sumber: Koran Riau Pos, 16 Agustus 2012.


0 comments:
Post a Comment