Suatu ketika ada seorang teman yang meminta
bantuan saya untuk membelikan buku. Pada waktu itu saya memang sudah mulai
belajar menjual buku online melanjutkan posisi Mahwi Air Tawar yang mulai sibuk
dengan pekerjaannya wira-wiri Jogja-Jakarta. Saya pun tanpa panjang lebar
menyanggupi permintaan teman itu, karena buku yang ia pesan penerbitnya memang
di Yogyakarta.
Uang saya saat itu hanya tinggal 50.000 tidak
kurang dan tidak lebih. Prediksi saya, harga buku yang hendak saya beli itu,
kisaran 30.000-40.000, syukur-syukur kalau tidak sampai 30.000, pikir saya,
sebab biasanya ketika ada bazar atau di toko buku hanya dijual 25.000-35.000,
namun sayangnya di toko buku, buku tersebut saat itu stoknya sudah kosong.
Singkat cerita, sesampainya di penerbit, dengan
napas sedikit tersengal dan punggung basah kuyup, saya melangkah masuk sambil
mengucapkan salam. Seorang perempuan paruh baya keluar dan menemui saya. Ia
bertanya perihal keperluan saya. Saya pun menjelaskan, bahwa saya bermaksud
membeli sebuah buku, dan menyebutkan judul buku yang hendak saya beli.
“Baik, Mas. Tunggu sebentar, saya ambilkan!”
perempuan itu masuk lagi ke sebuah ruangan. Saya duduk santai sambil
memerhatikan buku-buku yang dipajang di rak. Ada beberapa yang saya suka, tapi
ingat uang hanya 50.000, tentuk tidak cukup untuk membeli dua judul buku.
Tidak seberapa lama, perempuan itu datang membawa
satu buku dan nota pembelian. Ia langsung menuliskan judul buku di nota
tersebut beserta harganya. Saya berdiri mendekati, lantas bertanya.
“Berapa harganya, Mbak?”
“Enam puluh ribu, Mas.” Waduh, saya tertegun dan
mematung sejenak.
“Enam puluh ribu, Mbak?” Saya meyakinkan.
“Iya, Mas. Harga aslinya delapan puluh lima ribu.
Ini sudah didiskon.” Jelas perempuan itu sambil menyobek nota pembelian. Saya
masih bingung hendak ngomong apa. Saya ambil dompet perlahan-lahan, saya buku,
uang 50.000 pun saya perhatikan lekat-lekat.
“Wah kok mahal ya, Mbak? Biasanya dibazar hanya
dua puluh lima ribu?” kata saya, agak sedikit meringis. Kemungkinan perempuan
itu sudah lihat isi dompet saya yang hanya ada satu lembar uang.
“Itu harga beda, Mas kalau di bazar.” Perempuan
itu mulai terlihat males sama saya. Mungkin karena mulai merasa kalau saya
keberatan dengan harga tersebut.
“Gimana ya Mbak, saya hanya ada uang lima puluh
ribu.” Saya terpaksa berkata jujur, meski sebenarnya agak sedikit gimana gitu.
“Wah, ini sudah harga murah mas.” Perempuan itu
tanpak mengerutkan keningnya.
“Iyaaa... gimana ya Mbak?? dicencel dulu nggk
apa-apa? Uang saya nggk cukup, biar saya pulang dulu, besok balik lagi.” Kata
saya sedikit tidak enak sama perempuan tersebut.
Mendengar perkataan saya, tiba-tiba perempuan itu
membalikkan badan sambil menggerutu. Diam-diam meluapkan kebenciannya pada
saya. Lantas ia pun pergi tanpa satu kata pun meninggalkan saya dengan wajah
laksana terong bakar.
Pulanglah saya dengan hati luka dan kecewa. #Jogja 2013

0 comments:
Post a Comment