Uang dan Buku

Suatu ketika ada seorang teman yang meminta bantuan saya untuk membelikan buku. Pada waktu itu saya memang sudah mulai belajar menjual buku online melanjutkan posisi Mahwi Air Tawar yang mulai sibuk dengan pekerjaannya wira-wiri Jogja-Jakarta. Saya pun tanpa panjang lebar menyanggupi permintaan teman itu, karena buku yang ia pesan penerbitnya memang di Yogyakarta.
Di pagi yang cukup cerah dan sinar matahari berseri-seri, kalau tidak salah tepat pada hari sabtu, hari libur kuliah, saya pun pagi itu berniat untuk pergi ke penerbit. Dari Papringan tempat saya ngekos ke penerbit tersebut di Jl. Parangtritis jaraknya kurang lebih sekitar 7-8 kilo. Kira-kira jam 07 pagi saya sudah siap-siap dengan sepeda ontel saya. Pada saat itu, saya memang suka berkarib dengan ontel kemana saja pergi.
Sekitar jam 07.30 bergegaslah saya bersama sepeda itu menuju penerbit. Seperti biasa, untuk meredam rasa lelah dan letih di sepanjang perjalanan, saya sering kali menghibur diri dengan bernyanyi-nyanyi. Apa pun lirik nyanyian yang pernah saya tangkap ditelinga, saya nyanyikan sekenanya. Tetapi yang sering saya nyanyikan biasanya lirik laku milik bang Haji Roma, kalau nggak Yus Yunus. Entah kenapa, saya suka dengan lirik-liriknya yang puitis dan penuh makna.
Uang saya saat itu hanya tinggal 50.000 tidak kurang dan tidak lebih. Prediksi saya, harga buku yang hendak saya beli itu, kisaran 30.000-40.000, syukur-syukur kalau tidak sampai 30.000, pikir saya, sebab biasanya ketika ada bazar atau di toko buku hanya dijual 25.000-35.000, namun sayangnya di toko buku, buku tersebut saat itu stoknya sudah kosong.
Singkat cerita, sesampainya di penerbit, dengan napas sedikit tersengal dan punggung basah kuyup, saya melangkah masuk sambil mengucapkan salam. Seorang perempuan paruh baya keluar dan menemui saya. Ia bertanya perihal keperluan saya. Saya pun menjelaskan, bahwa saya bermaksud membeli sebuah buku, dan menyebutkan judul buku yang hendak saya beli.
“Baik, Mas. Tunggu sebentar, saya ambilkan!” perempuan itu masuk lagi ke sebuah ruangan. Saya duduk santai sambil memerhatikan buku-buku yang dipajang di rak. Ada beberapa yang saya suka, tapi ingat uang hanya 50.000, tentuk tidak cukup untuk membeli dua judul buku.
Tidak seberapa lama, perempuan itu datang membawa satu buku dan nota pembelian. Ia langsung menuliskan judul buku di nota tersebut beserta harganya. Saya berdiri mendekati, lantas bertanya.
“Berapa harganya, Mbak?”
“Enam puluh ribu, Mas.” Waduh, saya tertegun dan mematung sejenak.
“Enam puluh ribu, Mbak?” Saya meyakinkan.
“Iya, Mas. Harga aslinya delapan puluh lima ribu. Ini sudah didiskon.” Jelas perempuan itu sambil menyobek nota pembelian. Saya masih bingung hendak ngomong apa. Saya ambil dompet perlahan-lahan, saya buku, uang 50.000 pun saya perhatikan lekat-lekat.
“Wah kok mahal ya, Mbak? Biasanya dibazar hanya dua puluh lima ribu?” kata saya, agak sedikit meringis. Kemungkinan perempuan itu sudah lihat isi dompet saya yang hanya ada satu lembar uang.
“Itu harga beda, Mas kalau di bazar.” Perempuan itu mulai terlihat males sama saya. Mungkin karena mulai merasa kalau saya keberatan dengan harga tersebut.
“Gimana ya Mbak, saya hanya ada uang lima puluh ribu.” Saya terpaksa berkata jujur, meski sebenarnya agak sedikit gimana gitu.
“Wah, ini sudah harga murah mas.” Perempuan itu tanpak mengerutkan keningnya.
“Iyaaa... gimana ya Mbak?? dicencel dulu nggk apa-apa? Uang saya nggk cukup, biar saya pulang dulu, besok balik lagi.” Kata saya sedikit tidak enak sama perempuan tersebut.
Mendengar perkataan saya, tiba-tiba perempuan itu membalikkan badan sambil menggerutu. Diam-diam meluapkan kebenciannya pada saya. Lantas ia pun pergi tanpa satu kata pun meninggalkan saya dengan wajah laksana terong bakar.
Pulanglah saya dengan hati luka dan kecewa. #Jogja 2013

0 comments: